Sabtu, 30 Mei 2026
Beranda / Berita / Nasional / Babe Haikal Ungkap Kontribusi Industri Halal Capai 27 Persen PDB

Babe Haikal Ungkap Kontribusi Industri Halal Capai 27 Persen PDB

Jum`at, 29 Mei 2026 23:50 WIB

Font: Ukuran: - +

Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal Ahmad Haikal Hasan menyebut industri halal memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. [Foto: dok. BPJPH]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal Ahmad Haikal Hasan menyebut industri halal memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, sektor rantai pasok halal menyumbang sekitar 27 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional atau setara Rp4.900 triliun.

Pernyataan itu disampaikan Haikal saat membuka Indonesia Halal Brand & Food (IHBF) Expo 2026 di NICE PIK 2, Banten, Jumat (29/5/2026). Ia menegaskan halal tidak hanya berkaitan dengan sertifikasi produk, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pembangunan ekonomi nasional.

“Kontribusi industri halal terhadap perekonomian nasional sangat besar. Ini menunjukkan bahwa halal bukan hanya urusan sertifikasi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia,” kata Haikal.

Haikal menjelaskan kontribusi halal kerap tidak terlihat secara langsung oleh masyarakat, meski berdampak besar terhadap sektor produksi, perdagangan, dan konsumsi nasional. Ia mengibaratkan halal seperti gula dalam secangkir kopi yang keberadaannya tidak selalu terlihat, tetapi memberi pengaruh penting.

Menurut Haikal, ekosistem halal mencakup rantai pasok yang luas mulai dari industri pengolahan, logistik, perdagangan, hingga jasa pendukung lainnya. Karena itu, implementasi jaminan produk halal dinilai mampu menggerakkan aktivitas ekonomi di berbagai sektor sekaligus memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global.

Ia juga menegaskan halal tidak boleh dipahami semata sebagai persoalan makanan dan minuman atau kewajiban agama. Haikal menyebut halal telah berkembang menjadi simbol kualitas, kebersihan, keamanan, dan ketertelusuran yang dibutuhkan masyarakat dunia.

“Halal bukan hanya untuk Muslim. Halal adalah for all. Ketika halal menjadi budaya dan gaya hidup, maka yang tumbuh bukan hanya industri halal, tetapi juga kepercayaan, produktivitas, dan kualitas sumber daya manusia,” ujarnya. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI