Rabu, 27 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / IKI Mei Naik Jadi 53,56, Kemenperin Sebut Kepercayaan Industri Manufaktur Indonesia Menguat

IKI Mei Naik Jadi 53,56, Kemenperin Sebut Kepercayaan Industri Manufaktur Indonesia Menguat

Rabu, 27 Mei 2026 10:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Indri

Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief mengatakan, kenaikan IKI menunjukkan tingkat optimisme pelaku industri manufaktur nasional masih kuat. [Foto: dok. Kemenperin]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat sektor manufaktur nasional tetap berada pada jalur ekspansi di tengah ketidakpastian ekonomi global dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Hal itu tercermin dari capaian Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Mei 2026 yang naik menjadi 53,56 dibandingkan April 2026 sebesar 51,75.

Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief mengatakan, kenaikan IKI menunjukkan tingkat optimisme pelaku industri manufaktur nasional masih kuat.

“Di tengah ketidakpastian global dan pelemahan nilai tukar rupiah, IKI Mei 2026 justru naik signifikan dari 51,75 pada April menjadi 53,56 pada Mei 2026. Ini menunjukkan tingkat kepercayaan pelaku industri manufaktur nasional masih sangat kuat,” ujar Febri dalam keterangan resmi yang diterima pada Rabu (27/5/2026).

Menurut Febri, salah satu faktor yang mendorong peningkatan IKI, yakni keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Kebijakan tersebut dinilai mampu menjaga inflasi tetap terkendali dan mempertahankan daya beli masyarakat sehingga permintaan terhadap produk manufaktur meningkat. 

“Kebijakan tersebut membuat inflasi tetap terkendali dan daya beli masyarakat terutama atas produk manufaktur meningkat,” katanya.

Kemenperin mencatat inflasi tahunan pada April 2026 berada di level 2,42 persen secara tahunan (year on year/yoy), sementara Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tetap optimistis pada level 123,0. 

Kondisi itu mendorong peningkatan aktivitas produksi industri yang tercermin dari variabel produksi dalam IKI Mei 2026 yang naik 3,86 poin menjadi 55,20, sekaligus menjadi level tertinggi sejak Januari 2025. Selain itu, variabel pesanan tercatat sebesar 53,47 dan variabel persediaan mencapai 51,33.

Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 20 subsektor tercatat mengalami ekspansi dan menyumbang 97,8 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas pada triwulan I 2026. Subsektor dengan nilai IKI tertinggi pada Mei 2026 yakni industri pakaian jadi serta industri kertas dan barang dari kertas.

Febri menuturkan, pasar domestik masih menjadi penopang utama industri manufaktur nasional di tengah tekanan global. IKI industri berorientasi pasar domestik naik 2,56 poin menjadi 53,46, sedangkan industri berorientasi ekspor meningkat 1,45 poin menjadi 53,73. 

“Pasar domestik masih menjadi kekuatan utama industri manufaktur Indonesia dalam menghadapi tekanan akibat gejolak ketidakpastian global,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita mengatakan sektor industri kecil dan menengah masih berada pada level ekspansi meski menghadapi tantangan kenaikan biaya produksi dan persaingan produk impor di marketplace digital. 

“Upaya utamanya tentu mempertahankan pasar dalam negeri, terlebih hampir 80 persen produk industri kita ditujukan untuk pasar domestik,” kata Reni. [in]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI