DIALEKSIS.COM | Jakarta - Pemerintah menyiapkan strategi investasi pemasukan sapi pada 2026 untuk menjaga keberlanjutan pasokan daging nasional, seiring kebutuhan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kementerian Pertanian menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak sekadar mengejar volume pemasukan, tetapi memastikan ternak benar-benar dikelola dan berkembang di kandang peternak rakyat.
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) menyusun target investasi dengan mempertimbangkan kebutuhan domestik, realisasi tahun sebelumnya, serta komitmen pelaku usaha. Pendekatan ini ditempuh agar tambahan populasi sapi berkontribusi langsung pada stabilitas pasokan dan pengendalian harga daging di pasar.
Ketua Kelompok Substansi Data, Evaluasi, dan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan dan Pengendalian Intern Ditjen PKH, Dedik Joko Prihantono, mengatakan target pemasukan sapi 2026 masih berbasis pada pelaku usaha yang sama. Langkah tersebut diambil untuk menjaga kesinambungan investasi dan mempermudah pengawasan.
“Pelaku usaha yang telah berkomitmen akan terus kami pantau, mulai dari konfirmasi komitmen hingga penyesuaian volume di 2026, sehingga keterlacakan investasi dapat dipastikan sejak awal,” ujar Dedik, Selasa (3/2/2026).
Ia menegaskan, investasi tidak berhenti pada realisasi pemasukan ternak. Pemerintah juga memonitor perkembangan sapi di lapangan agar benar-benar memberi dampak terhadap ketersediaan pasokan dalam negeri.
“Yang kami pastikan, sapi yang masuk berkembang dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Dedik.
Sementara itu, Sekretaris Ditjen PKH Nuryani Zainuddin menilai pemasukan sapi sepanjang 2025 telah membantu memperkuat pasokan nasional. Meski demikian, ia menekankan pentingnya evaluasi tata kelola investasi untuk menjaga akuntabilitas.
“Dampaknya positif, tetapi tetap harus dievaluasi agar pelaksanaannya semakin tertib,” pungkasnya. [in]