DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Akademisi dan Dosen Program Studi Budidaya Peternakan Universitas Syiah Kuala, Ir. Hendra Koesmara, menilai Aceh memiliki modal sumber daya manusia yang kuat untuk menopang pengembangan industri unggas modern dalam skala besar.
Menurut Hendra, Aceh selama ini telah memiliki fondasi pendidikan peternakan yang cukup baik melalui keberadaan program studi peternakan dan kedokteran hewan di USK. Kondisi tersebut dinilai menjadi keuntungan besar apabila investasi peternakan modern benar-benar direalisasikan di Aceh.
“Kita mendukung rencana investasi untuk peternakan ayam yang diinisiasi oleh Kadin Aceh sebesar Rp2 triliun. Provinsi Aceh sudah sangat kuat dari sisi SDM bidang peternakan. Karena di USK ada program studi peternakan dan kedokteran hewan,” kata Hendra kepada media dialeksis.com, Jumat (15/5/2026) dalam menanggapi rencana investasi industri peternakan ayam terpadu senilai Rp2 triliun yang diinisiasi Kamar Dagang dan Industri Aceh.
Ia menjelaskan, kesiapan sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan industri unggas.
Menurutnya, Aceh tidak akan kesulitan mendapatkan tenaga teknis yang memahami sistem budidaya peternakan apabila investasi tersebut berjalan.
“Artinya kalau program ini nantinya terealisasi, tentu tidak sulit untuk mencari tenaga teknis yang paham tentang sektor budidaya peternakan,” ujarnya.
Hendra menilai, lulusan peternakan dan kedokteran hewan dari berbagai perguruan tinggi di Aceh memiliki kemampuan yang cukup untuk mendukung pengembangan industri unggas modern, mulai dari aspek budidaya, kesehatan hewan, hingga manajemen produksi peternakan.
Meski optimistis terhadap kesiapan SDM Aceh, ia mengingatkan bahwa investasi peternakan unggas tidak cukup hanya mengandalkan tenaga kerja dan pembangunan kandang. Menurutnya, sektor hulu seperti ketersediaan bahan baku pakan juga harus dirancang secara matang.
Ia menyebut jagung sebagai bahan utama pakan unggas harus tersedia secara berkelanjutan agar industri peternakan dapat berjalan stabil dan tidak bergantung penuh pada pasokan dari luar daerah.
“Tentunya perencanaan untuk kegiatan investasi ini harus matang. Kebutuhan jagung sebagai bahan pakan utama unggas harus tersedia. Untuk itu perlu direncanakan dengan matang, wilayah budidaya jagung itu ada di mana,” katanya.
Selain itu, Hendra juga menyoroti pentingnya sinkronisasi dengan Rencana Tata Ruang Wilayah atau RTRW Provinsi Aceh agar pengembangan industri peternakan tidak berbenturan dengan kebijakan tata ruang dan penggunaan lahan di masa mendatang.
“Bagaimana dengan RTRW Provinsi Aceh, apakah sudah mengakomodir hal tersebut,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan bahwa produk peternakan merupakan komoditas yang mudah rusak sehingga membutuhkan sistem hilirisasi dan pemasaran yang kuat. Menurutnya, investasi peternakan modern harus dibangun secara terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.
“Kemudian sifat dari produk peternakan ini mudah rusak, masa simpannya tidak lama. Perlu dipikirkan juga hilirisasi dan pemasaran dari kegiatan peternakan tersebut,” ujarnya.
Dalam pandangannya, Aceh dapat belajar dari model bisnis perusahaan unggas besar di Asia Tenggara seperti Charoen Pokphand Group dan Japfa Comfeed yang berhasil membangun sistem agribisnis peternakan secara terintegrasi.
“Kalau hari ini kita lihat, dua perusahaan yang menjadi pemain utama industri unggas di Asia Tenggara yaitu Charoen Pokphand Group dan Japfa Comfeed. Mereka menguasai seluruh sektor agribisnis peternakan unggas mulai dari sektor hulu, budidaya, hilirisasi dan pemasaran,” jelasnya.
Hendra berharap, apabila investasi industri unggas di Aceh benar-benar terwujud, maka pengembangannya dapat memanfaatkan kekuatan SDM lokal serta membangun sistem industri yang menyeluruh sehingga memberi dampak besar terhadap ekonomi masyarakat dan ketahanan pangan daerah.
“Semoga nantinya industri unggas yang akan hadir di Aceh bisa mencontoh dua perusahaan tersebut,” demikian Hendra Koesmara. [nh]