DIALEKSIS.COM | Internasional - Jenderal Majid Mousavi, Kepala Pasukan Udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), mengeluarkan peringatan keras terhadap potensi agresi lanjutan terhadap Iran. Ia menegaskan bahwa tindakan militer tambahan terhadap negaranya akan menjadi kesalahan besar dengan konsekuensi serius bagi kawasan.
Dalam pernyataannya, Mousavi menyoroti kemungkinan dampak terhadap sektor energi regional, khususnya jika negara-negara Teluk memberikan akses kepada Amerika Serikat untuk melancarkan serangan. “Jika negara-negara tetangga di selatan mengizinkan musuh menggunakan fasilitas mereka untuk menyerang Iran, mereka harus mengucapkan selamat tinggal pada produksi minyak di kawasan Timur Tengah,” ujarnya, seperti dilansir Al Jazeera.
Diketahui, Amerika Serikat memiliki sejumlah pangkalan militer dan kehadiran pasukan di berbagai negara kawasan Teluk.
Mousavi juga menegaskan kesiapan penuh IRGC dalam menghadapi segala bentuk ancaman pasca gencatan senjata. Ia menyatakan bahwa jika terjadi pelanggaran atau agresi baru, pihaknya siap menargetkan titik mana pun sesuai kehendak rakyat Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pesan kepada rakyat Iran yang selama lebih dari 50 hari turun ke jalan memberikan dukungan kepada angkatan bersenjata dalam konflik yang disebut sebagai “perang ketiga yang dipaksakan”.
Dalam pesannya, Mousavi mengapresiasi dukungan publik yang dinilai menjadi kekuatan moral bagi militer Iran. Ia menggambarkan kesiapsiagaan pasukan yang terus berjaga, bahkan selama masa gencatan senjata.
“Anak-anak Anda berdiri di dekat peluncur rudal selama puluhan hari dan malam. Bahkan dalam masa gencatan senjata, mereka tetap siaga, tangan di pelatuk, siap membela tanah ini,” katanya.
Ia juga kembali memperingatkan negara-negara di kawasan agar tidak terlibat dalam kerja sama militer dengan pihak yang dianggap sebagai musuh Iran. Menurutnya, keterlibatan tersebut akan berujung pada konsekuensi serius terhadap stabilitas ekonomi, khususnya sektor minyak.
Sementara itu, gencatan senjata yang berlangsung selama dua pekan dilaporkan akan berakhir pada Selasa malam, di tengah kebuntuan terkait kelanjutan perundingan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya secara sepihak mengumumkan perpanjangan gencatan senjata.
Hingga kini, Iran belum memberikan tanggapan resmi atas pengumuman tersebut. Namun, Teheran menegaskan bahwa blokade angkatan laut yang dianggap ilegal harus segera dicabut oleh Amerika Serikat.
Konflik antara Iran dan koalisi AS-Israel disebut dimulai pada Februari dan berlangsung selama 40 hari sebelum dihentikan melalui kesepakatan berdasarkan proposal 10 poin dari Iran. Meski demikian, Iran menuding pihak Amerika terus melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata tersebut.