Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Rektor Unimal Apresiasi KemenPU dan PUPR Aceh yang dibantu TNI/Polri, Pulihkan Akses Jalan Pascabencana

Rektor Unimal Apresiasi KemenPU dan PUPR Aceh yang dibantu TNI/Polri, Pulihkan Akses Jalan Pascabencana

Selasa, 30 Desember 2025 20:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Rektor Unimal Apresiasi KemenPU dan PUPR Aceh yang dibantu TNI/Polri, Pulihkan Akses Jalan Pascabencana. [Foto: dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Lhokseumawe - Rektor Universitas Malikussaleh, Prof. Dr. Ir. Herman Fithra, S.T., M.T., IPM ASEAN. Eng., mengapresiasi kinerja Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh serta TNI/POLRI yang bergerak cepat membuka kembali akses jalan di wilayah terdampak banjir bandang dan longsor di Aceh.

Menurut Herman Fithra, kolaborasi multipihak tersebut berhasil memulihkan konektivitas di daerah yang sebelumnya terisolasi, seperti Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Aceh Tengah. Jalur-jalur utama yang sempat terputus dan tidak dapat dilalui, kini kembali berfungsi sehingga aktivitas masyarakat mulai berjalan normal.

“Pembukaan akses jalan ini bukan sekadar memulihkan infrastruktur, tetapi menghidupkan kembali denyut sosial dan ekonomi masyarakat. Akses yang terbuka memungkinkan bantuan kemanusiaan, layanan kesehatan, pendidikan, serta roda ekonomi bergerak kembali,” kata Herman Fithra dalam keterangannya kepada Dialeksis, Selasa (30/12/2025).

Ia menilai kecepatan respons pemerintah dan para pemangku kepentingan menunjukkan pentingnya sinergi lintas sektor dalam penanganan bencana. Herman juga menyampaikan duka cita kepada warga yang terdampak, sekaligus penghargaan kepada para pekerja lapangan dan relawan yang tetap bekerja di tengah kondisi cuaca ekstrem dan medan yang sulit.

Universitas Malikussaleh, kata dia, siap mengambil peran dalam pemulihan jangka menengah dan panjang, termasuk melalui kajian akademik, dukungan teknis, dan penguatan kapasitas masyarakat di kawasan rawan bencana agar lebih tangguh ke depan.

Apresiasi terhadap kinerja pemerintah juga datang dari warga. Baktiar Gayo, warga Aceh Tengah, mengatakan terbukanya kembali akses jalan membawa perubahan signifikan bagi kehidupan masyarakat di wilayahnya.

“Selama jalan terputus, kami benar-benar terisolasi. Untuk membawa orang sakit ke rumah sakit saja sangat sulit. Setelah jalan dibuka, bantuan bisa masuk dan aktivitas warga perlahan kembali normal,” ujar Baktiar. Ia berharap perbaikan infrastruktur ke depan tidak hanya bersifat darurat, tetapi dirancang lebih kuat dan memperhitungkan risiko bencana di wilayah pegunungan.

Hal senada disampaikan Hendra Vramenia, warga Aceh Tamiang kepada Dialeksis saat dihubungi. Ia menilai pembukaan akses jalan menjadi bukti nyata kehadiran negara di tengah situasi darurat yang dialami masyarakat.

“Yang kami rasakan bukan hanya jalan yang terbuka, tapi juga rasa aman dan harapan. Anak-anak bisa kembali sekolah, pedagang kecil mulai berjualan lagi, dan masyarakat tidak lagi terisolasi,” kata Hendra. Ia berharap kolaborasi lintas instansi yang telah terbangun saat masa tanggap darurat dapat berlanjut pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.

Pemerintah Aceh sebelumnya menyatakan akan melanjutkan penanganan pascabencana dengan fokus pada perbaikan permanen infrastruktur, penguatan mitigasi bencana, serta penataan ruang yang lebih adaptif terhadap kondisi alam Aceh. [arn]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI