DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Perempuan lintas agama dinilai memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan dan mempercepat pemulihan pasca bencana. Hal itu mengemuka dalam Sarasehan Multikultural Perempuan Lintas Agama dalam Membangun Ketahanan dan Pemulihan Pasca Bencana yang digelar di Banda Aceh, Senin (29/12/2025).
Kegiatan yang mengusung tema “Dari Dapur Duka ke Dapur Asa” ini menghadirkan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Aceh, H.A. Hamid Zein, sebagai narasumber utama. Acara dibuka oleh pejabat yang mewakili Kepala Badan Kesbangpol Aceh, Neea Gustika, S.STP., MM, selaku Analis Kebijakan Ahli Muda Badan Kesbangpol Aceh.
Dalam pemaparannya, Hamid Zein menegaskan bahwa bencana alam tidak pernah mengenal suku, agama, ras, maupun golongan. Menurutnya, pengalaman pahit tsunami Aceh dan musibah banjir serta longsor (bansor) yang terjadi belakangan ini menjadi pengingat bahwa bencana dapat menimpa siapa saja, tanpa membedakan latar belakang sosial dan keagamaan.
“Namun dalam proses pemulihan, kita menyaksikan solidaritas kemanusiaan yang luar biasa. Hampir seluruh bangsa di dunia membantu Aceh bangkit pascatsunami. Begitu pula saat ini, pemerintah, dunia usaha, dan berbagai elemen masyarakat turut membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat,” ujarnya.
Ia menekankan, perempuan memiliki peran penting dalam pengurangan risiko dan penanggulangan bencana, mulai dari meningkatkan kesadaran keluarga terhadap risiko bencana, pengelolaan lingkungan dan persampahan, pemberdayaan masyarakat, hingga dukungan perawatan medis serta pembangunan harmoni sosial dan kerukunan antarumat beragama.
Selain itu, Hamid Zein juga menyoroti kuatnya kepedulian lintas agama dalam merespons bencana. Meski mayoritas korban tsunami dan banjir longsor adalah masyarakat Muslim, komunitas Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha di Indonesia turut menunjukkan empati melalui berbagai bentuk bantuan dan donasi.
“Kerukunan tetap terjaga meskipun kita berada di tengah suasana duka dan bertepatan dengan perayaan Natal dan Tahun Baru. Masyarakat tetap saling menghormati dan menjaga suasana damai,” tambahnya.
Melalui tema “Dari Dapur Duka ke Dapur Asa”, sarasehan ini mengajak peserta merefleksikan dapur sebagai simbol kehidupan sehari-hari--tempat lahirnya kekuatan, ketangguhan, dan harapan. Dari ruang sederhana itulah, keluarga dan masyarakat belajar bangkit dari kesulitan menuju perubahan yang lebih baik.
Hamid Zein menegaskan, ketangguhan daerah dan negara sangat bergantung pada ketangguhan keluarga. Doa, solidaritas, serta kekuatan spiritual menjadi modal penting dalam menghadapi dan menerima musibah.
“Kita berharap forum ini mampu menggali berbagai potensi dan melahirkan rekomendasi konkret untuk membantu pemerintah dan Pemerintah Aceh dalam mempercepat proses pemulihan dan recovery pasca bencana,” tutupnya.
Sarasehan ini dipandu oleh Ruwaida, Ketua Yayasan Perempuan dan Anak Negeri Aceh, bersama Hasan Basri M. Nur, Ph.D, Sekretaris FKUB Aceh. Kegiatan diikuti oleh pengurus FKUB Aceh, organisasi perempuan dan pemuda, perwakilan mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat, serta tokoh lintas agama, termasuk tokoh Buddha, Kristen Protestan, Katolik, dan Hindu. [*]