Kamis, 04 Juni 2026
Beranda / Gaya Hidup / Seni - Budaya / MaSA Minta Dinas Kebudayaan dan DPRA Bahas Masa Depan Budaya Aceh

MaSA Minta Dinas Kebudayaan dan DPRA Bahas Masa Depan Budaya Aceh

Kamis, 04 Juni 2026 17:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Sekretaris Jenderal Masyarakat Seniman Aceh (MaSA), Thayeb Loh Angen, meminta Dinas Kebudayaan Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) menyiapkan forum atau meja khusus untuk membahas arah dan masa depan kebudayaan Aceh secara berkelanjutan. [Foto: dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Sekretaris Jenderal Masyarakat Seniman Aceh (MaSA), Thayeb Loh Angen, meminta Dinas Kebudayaan Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) menyiapkan forum atau meja khusus untuk membahas arah dan masa depan kebudayaan Aceh secara berkelanjutan.

Menurut Thayeb, salah satu agenda penting yang perlu dibahas adalah kepastian alokasi program kebudayaan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) setiap tahun.

"Ini salah satu upaya menguatkan kepentingan budaya agar masuk dalam APBA setiap tahun. Kebudayaan tidak boleh hanya menjadi wacana, tetapi harus mendapat dukungan anggaran yang jelas dan berkesinambungan," kata Thayeb Loh Angen kepada media, Kamis (4/6/2026).

Ia menilai keberadaan forum khusus tersebut penting untuk mempertemukan pemerintah, legislatif, serta pelaku budaya dalam merumuskan kebijakan yang berpihak pada pelestarian dan pengembangan kebudayaan Aceh.

Menurut Thayeb, selama ini perhatian terhadap kebutuhan pelaku budaya masih belum maksimal. Akibatnya, banyak kegiatan kebudayaan dan upaya pelestarian warisan budaya dilakukan secara mandiri oleh masyarakat dan komunitas seni.

"Selama ini pelaku budaya lebih banyak bergerak dengan kemampuan sendiri. Padahal kebudayaan merupakan identitas dan kekuatan peradaban Aceh yang seharusnya mendapat perhatian serius dari pemerintah," ujarnya.

Ia berharap Dinas Kebudayaan Aceh bersama DPRA dapat membuka ruang dialog yang lebih intensif dengan komunitas budaya, sehingga berbagai kebutuhan dan persoalan yang dihadapi pelaku seni dan budaya dapat diakomodasi dalam kebijakan daerah.

Thayeb menegaskan, keberpihakan terhadap sektor kebudayaan tidak hanya penting untuk menjaga warisan leluhur, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang dalam memperkuat identitas Aceh di tengah perkembangan zaman.

Menurutnya, tanpa dukungan kebijakan dan anggaran yang memadai, banyak potensi budaya Aceh terancam sulit berkembang secara optimal.[*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI