DIALEKSIS.COM | Surabaya - Pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah meningkatnya tekanan global, termasuk ancaman krisis pangan, energi, dan air. Salah satu langkah yang ditempuh dengan meningkatkan cadangan beras pemerintah (CBP) ke jumlah tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan kondisi global saat ini menuntut setiap negara memiliki strategi cepat dan terukur dalam menghadapi potensi krisis. Menurut dia, Indonesia termasuk negara yang relatif siap menghadapi tekanan tersebut.
“Saat ini dunia menghadapi tiga krisis besar, yaitu krisis pangan, energi, dan air. Tiga hal ini harus segera mendapatkan solusi,” ujar Amran dalam keterangannya di Surabaya, Minggu (19/4/2026).
Ia mengungkapkan, stok CBP yang dikelola Perum Bulog kini telah mencapai 4,9 juta ton dan diproyeksikan segera menembus 5 juta ton dalam waktu dekat. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak Indonesia berdiri dan menjadi bagian dari strategi antisipasi terhadap potensi gangguan produksi, termasuk dampak fenomena El Nino.
Menurut Amran, pemerintah telah belajar dari pengalaman menghadapi El Nino pada tahun-tahun sebelumnya, sehingga langkah mitigasi kini dilakukan lebih awal.
“Insya Allah aman. Kita sudah siapkan lebih awal berdasarkan pengalaman sebelumnya,” katanya.
Selain penguatan stok, peningkatan produksi dalam negeri juga menjadi faktor utama. Pemerintah mencatat sejak 2025 Indonesia tidak lagi melakukan impor beras dalam jumlah besar, seiring dengan surplus produksi nasional yang terus dijaga.
Di sisi lain, indikator kesejahteraan petani juga menunjukkan tren positif. Data Badan Pusat Statistik mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) terus berada di atas angka 120 sejak pertengahan 2024, dengan capaian tertinggi dalam beberapa tahun terakhir terjadi pada akhir 2025 dan awal 2026. Hal ini mencerminkan daya beli petani yang relatif stabil di tengah dinamika ekonomi. [*]