Rabu, 08 Juli 2026
Beranda / Pemerintahan / Aceh Borong Sembilan Penghargaan Adinata Syariah, Tuai Respons Berbagai Pihak

Aceh Borong Sembilan Penghargaan Adinata Syariah, Tuai Respons Berbagai Pihak

Selasa, 07 Juli 2026 17:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Aceh Borong Sembilan Penghargaan Adinata Syariah, Tuai Respons Berbagai Pihak. [Foto: dok. kolase dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Keberhasilan Pemerintah Aceh meraih sembilan penghargaan dalam ajang Anugerah Adinata Syariah 2026 mendapat apresiasi luas. Capaian itu dinilai bukan sekadar prestasi seremonial, melainkan pengakuan atas menguatnya ekosistem ekonomi dan keuangan syariah di Aceh.

Anugerah Adinata Syariah 2026 digelar di Auditorium Bank Mega, Jakarta Selatan, Senin malam, 6 Juli 2026. Ajang yang diselenggarakan CNN Indonesia bekerja sama dengan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah atau KNEKS itu menjadi ruang penilaian terhadap komitmen daerah dalam mengembangkan ekonomi syariah secara berkelanjutan.

Aceh meraih Juara I kategori Inklusi Keuangan Syariah di Lingkungan Pemerintah Daerah. Penghargaan tersebut diterima Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, yang hadir mewakili Gubernur Aceh Muzakir Manaf.

Selain kategori utama itu, Aceh juga membawa pulang delapan penghargaan lain. Masing-masing Juara II kategori Literasi Ekonomi dan Keuangan Syariah, Juara II Pariwisata Ramah Muslim, Juara II Inkubasi Bisnis Usaha Syariah, Juara III Inovasi Ekonomi dan Keuangan Syariah, Juara III Rencana Aksi Daerah, Juara IV Keuangan Mikro Syariah, Juara IV Ekonomi Pesantren, serta Juara V Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat atau KHAS.

Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, yang akrab disapa Dek Fadh, mengatakan sembilan penghargaan itu merupakan hasil kerja kolektif seluruh elemen masyarakat Aceh.

“Sembilan penghargaan yang kita bawa pulang malam ini adalah hasil kerja keras seluruh masyarakat Aceh. Ini bukan sekadar pencapaian seremonial, melainkan amanah besar untuk terus menghadirkan inovasi ekonomi syariah yang berdampak langsung pada kesejahteraan umat,” kata Dek Fadh.

Ia menyatakan Pemerintah Aceh akan terus memperkuat program ekonomi dan keuangan syariah agar memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Menurut dia, Aceh memiliki posisi penting sebagai salah satu daerah rujukan pengembangan ekonomi syariah di Indonesia.

Direktur Utama PT Bank Aceh Syariah, H. Fadhil Ilyas, menilai penghargaan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Aceh tidak hanya dikenal sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam, tetapi juga mulai menunjukkan kemajuan nyata dalam penguatan ekonomi syariah di tingkat nasional.

“Ini prestasi yang sangat membanggakan. Sembilan penghargaan dalam Anugerah Adinata Syariah menunjukkan bahwa Aceh memiliki fondasi, komitmen, dan arah kebijakan yang semakin kuat dalam membangun ekosistem ekonomi syariah,” ujar Fadhil kepada Dialeksis.com, Selasa, 7 Juli 2026.

Menurut Fadhil, keberhasilan itu merupakan buah kerja bersama antara pemerintah, lembaga keuangan syariah, pelaku usaha, dunia pendidikan, ulama, pesantren, UMKM, dan masyarakat.

Ia mengatakan ekonomi syariah tidak boleh berhenti sebagai identitas. “Ia harus hadir sebagai kekuatan ekonomi yang memberi manfaat: membuka akses pembiayaan, menggerakkan UMKM, memperkuat industri halal, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Sebagai bank daerah berbasis syariah, Fadhil menegaskan Bank Aceh Syariah siap terus bersinergi dengan Pemerintah Aceh. Sinergi itu, kata dia, terutama dalam memperluas literasi, inklusi keuangan syariah, serta penguatan ekosistem ekonomi halal.

Apresiasi juga datang dari Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh, Tgk. H. Faisal Ali atau Abu Sibreh. Ia mengatakan capaian itu patut disyukuri karena menjadi bentuk pengakuan nasional terhadap komitmen Aceh dalam memperkuat pelaksanaan syariat Islam, khususnya di sektor ekonomi syariah dan ekosistem halal.

“Syariat Islam bukan hanya simbol. Ia harus tampak dalam keadilan, kejujuran, keberpihakan kepada masyarakat kecil, penguatan ekonomi umat, serta tata kelola pemerintahan yang amanah,” ujar Faisal Ali.

Ia berharap penghargaan tersebut tidak membuat Aceh berhenti pada kebanggaan. Menurut dia, semakin besar pengakuan yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga integritas dan memastikan program ekonomi syariah benar-benar menyentuh masyarakat.

Faisal Ali juga mendorong Pemerintah Aceh memperkuat UMKM halal, pemberdayaan dayah, zakat, wakaf produktif, serta literasi keuangan syariah. Jika dikelola dengan baik, kata dia, Aceh dapat menjadi contoh bagaimana syariat Islam membawa kemaslahatan dan kesejahteraan.

Regional Chief Executive Officer BSI Region Aceh, Imsak Ramadhan, turut menyampaikan apresiasi. Ia menilai capaian Pemerintah Aceh membuktikan bahwa ekosistem ekonomi syariah di Serambi Mekkah semakin kokoh.

“Capaian ini menjadi bukti bahwa Aceh memiliki modal besar dalam pengembangan ekonomi syariah, baik dari sisi regulasi, komitmen pemerintah, dukungan masyarakat, maupun ekosistem kelembagaan yang terus bergerak ke arah yang lebih kuat,” kata Imsak.

Menurut Imsak, prinsip ekonomi syariah harus diterjemahkan ke dalam layanan keuangan, pembiayaan produktif, penguatan UMKM, industri halal, pengelolaan zakat dan wakaf, serta pemberdayaan ekonomi umat.

Ia mengatakan BSI siap bersinergi dengan Pemerintah Aceh dan seluruh pemangku kepentingan. Dukungan itu, kata dia, akan diarahkan pada peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah, perluasan akses pembiayaan, digitalisasi layanan perbankan, serta pendampingan bagi pelaku UMKM.

“Capaian ini adalah energi positif. Tantangan kita ke depan adalah menjaga konsistensi, memperluas dampak, dan memastikan ekonomi syariah dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Imsak.

Dalam sambutannya pada malam penganugerahan, Ketua Dewan Syariah Nasional sekaligus Wakil Presiden RI periode 2019-2024, KH Ma’ruf Amin, menekankan pentingnya dukungan kebijakan yang berkelanjutan dalam pengembangan ekonomi syariah daerah.

Direktur Eksekutif KNEKS Sholahudin Al Aiyub mengatakan penghargaan itu diberikan bukan hanya berdasarkan aspek administratif, melainkan juga dampak nyata ekonomi syariah bagi masyarakat.

“Anugerah ini adalah bentuk apresiasi yang tidak hanya mengukur aspek administratif, tetapi juga dampak nyata ekonomi syariah bagi kemaslahatan masyarakat,” ujar Sholahudin.

Bagi Aceh, sembilan penghargaan tersebut menjadi modal reputasi sekaligus ujian konsistensi. Setelah pengakuan nasional itu, pekerjaan berikutnya adalah memastikan ekonomi syariah tidak hanya kuat di panggung penghargaan, tetapi hadir dalam kehidupan ekonomi masyarakat sehari-hari. [arn]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI