DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai menerapkan Teknologi Evaporasi Pergaraman Tunnel-Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) untuk meningkatkan produksi dan kualitas garam nasional. Teknologi ini memungkinkan petambak memproduksi garam sepanjang tahun, termasuk saat musim hujan yang selama ini menjadi hambatan utama.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Koswara mengatakan, penggunaan teknologi SWRO di sektor pergaraman merupakan yang pertama di Indonesia. Teknologi ini mengintegrasikan sistem tunnel dengan mesin SWRO untuk menghasilkan bahan baku garam berkualitas tinggi secara lebih stabil dan efisien.
“Dengan SWRO, air laut disaring sehingga menghasilkan larutan natrium klorida murni dengan kepekatan hingga 15 derajat Baume. Ini sangat ideal untuk langsung masuk proses kristalisasi,” kata Koswara dalam pernyataan resmi yang diterima pada Sabtu (7/2/2026).
Menurutnya, kualitas bahan baku yang lebih baik membuat proses kristalisasi garam berlangsung lebih cepat, hanya sekitar tiga hingga lima hari.
“Produksi jadi lebih singkat, hasilnya lebih konsisten, dan mutunya meningkat,” ujarnya. “Dengan sistem tunnel dan geomembran, garam lebih putih dan bersih. Sekitar lima hari sudah bisa panen".
Ia berharap teknologi ini dapat mendorong produksi garam rakyat berjalan sepanjang tahun dan meningkatkan kesejahteraan petambak. [in]