DIALEKSIS.COM | Idi Rayeuk - Atjeh Connection Foundation (ACF) mendirikan Sekolah Darurat bagi anak-anak korban banjir bandang di wilayah pedalaman Aceh Timur.
Program ini dilaksanakan di Dusun Rantau Panjang Rubek, Desa Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, sebagai upaya memastikan hak pendidikan anak tetap terpenuhi pascabencana.
Founder Atjeh Connection Foundation, Amir Faisal Nek Muhammad, mengatakan sekolah darurat didirikan karena banyak sekolah di wilayah terdampak mengalami kerusakan parah, bahkan sebagian hancur, sehingga proses belajar mengajar tidak dapat berjalan.
“Sekolah darurat ini kami lakukan agar anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikan meskipun sekolah mereka rusak parah, bahkan ada yang hancur akibat banjir,” ujar Amir Faisal kepada media dialeksis.com, Jumat (16/1/2026).
Sebelumnya, ACF juga telah melaksanakan program serupa secara berkeliling di sejumlah wilayah terdampak banjir, di antaranya Dusun Peulalu, Desa Blang Seunong; Dusun Ranto Panyang dan Dusun Tanjung Singkil, Desa Sijudo; serta Dusun Sarahgala, Desa Sahraja.
Untuk menjangkau lokasi-lokasi tersebut, relawan ACF harus menempuh perjalanan berat, mulai dari menyusuri sungai menggunakan perahu hingga melewati akses darat berlumpur yang sulit dilalui.
Bahkan, dalam beberapa misi, relawan terpaksa bermalam di perjalanan karena jauhnya jarak dan keterbatasan akses.
Selain kegiatan belajar mengajar, ACF juga menyalurkan school kit berupa tas dan alat tulis kepada anak-anak. Program pendidikan darurat ini melengkapi aksi kemanusiaan ACF yang sejak fase tanggap darurat rutin menyalurkan bantuan logistik, menghadirkan layanan kesehatan dan obat-obatan, serta menyediakan jaringan internet gratis, khususnya di wilayah pedalaman yang terisolir.
Aksi kemanusiaan Atjeh Connection Foundation telah berlangsung sejak 3 Desember dan kini memasuki hari ke-43. Selain Aceh Timur, ACF juga melakukan kegiatan serupa di sejumlah daerah terdampak banjir lainnya, seperti Aceh Tamiang, Kota Langsa, Aceh Jaya, Bireuen, Pidie Jaya, Bener Meriah, dan Aceh Tengah.
Menurut Amir Faisal, tantangan terbesar dalam penanganan bencana di wilayah pedalaman adalah keterbatasan akses serta minimnya distribusi bantuan. Karena itu, ACF memprioritaskan daerah-daerah yang sulit dijangkau agar bantuan benar-benar tepat sasaran.
Ia menambahkan, Sekolah Darurat bukan hanya solusi sementara, tetapi juga bentuk kepedulian agar anak-anak korban banjir tidak tertinggal dalam proses belajar.
ACF berharap sinergi dengan berbagai pihak dapat terus terbangun guna mempercepat pemulihan pendidikan dan kehidupan warga pascabencana.
"Kami menyadari tidak semua wilayah bisa dijangkau dengan mudah. Karena itu, sejak awal kami fokus ke pedalaman yang terisolir, baik dalam penyaluran logistik, layanan kesehatan, maupun pendidikan darurat. Selama akses masih sulit dan anak-anak belum bisa kembali ke sekolah, kami akan terus hadir mendampingi,” tutupnya. [nh]