DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Aceh, Suadi Sulaiman yang akrab disapa Adi Laweung, mengatakan bahwa dalam kondisi apa pun, menjaga perdamaian merupakan pondasi utama untuk mengokohkan kebangkitan Aceh dari keterpurukan akibat bencana hidrometeorologi yang melanda pada 2025.
Menurut Suadi, situasi kebencanaan semestinya menjadi momentum kehadiran negara bersama rakyat yang terdampak, bukan justru mengorbankan korban bencana.
Negara, kata dia, harus hadir secara nyata dalam pemenuhan berbagai kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari perlindungan, bantuan kemanusiaan, hingga pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi warga.
“Dalam kondisi apa pun, tugas menjaga perdamaian adalah fondasi utama untuk bangkit dari keterpurukan akibat bencana. Negara harus hadir bersama rakyat yang dilanda musibah, bukan malah menjadikan mereka korban berlapis,” ujar Suadi Sulaiman kepada media dialeksis.com, Jumat (16/1/2026).
Mantan Juru Bicara GAM Wilayah Pidie periode 2003-2005 itu mengingatkan, perdamaian Aceh yang disepakati antara Pemerintah Republik Indonesia dan pimpinan Gerakan Aceh Merdeka pada 15 Agustus 2005 merupakan tiang utama dalam membangun Aceh ke depan.
Perdamaian tersebut telah menjadi kekuatan penting dalam fase pemulihan Aceh, baik pascakonflik bersenjata, pascatsunami 2004, hingga menghadapi banjir bandang dan bencana hidrometeorologi 2025.
“Jika tiang perdamaian ini tidak kuat, maka unsur pembangunan lainnya juga tidak akan kokoh dengan sendirinya,” tegas mantan Juru Bicara DPP Partai Aceh periode 2014-2019 itu.
Suadi yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Aceh periode 2018“2023 menilai, bencana alam sejatinya menjadi momentum kembalinya kekuatan kolektif masyarakat Aceh untuk bersatu, saling membantu, berempati, dan membangun solidaritas tanpa memandang latar belakang apa pun.
“Bencana mengajarkan kita nilai-nilai kemanusiaan. Di sanalah solidaritas diuji, tanpa saling menyalahkan atau membenarkan diri sendiri. Kesatuan yang terbangun dalam masa bencana dapat menjadi resilience untuk bangkit dan pulih,” ujarnya.
Ia menambahkan, kekuatan perdamaian dan solidaritas sosial yang lahir dari musibah Aceh 2025 harus dijadikan pelajaran bersama, terutama dalam menjaga kelestarian alam dan memperkuat perlindungannya sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan.
“Mari kita jadikan musibah ini sebagai pelajaran untuk menjaga alam dan kehidupan. Ta jaga uteun, untok ta lindong hudep, kita jaga hutan untuk melindungi kehidupan,” pungkas Suadi Sulaiman. [nh]