Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Klinik Kita
Beranda / Liputan Khusus / Rekam Setapak Sang Juru Propaganda

Rekam Setapak Sang Juru Propaganda

Jum`at, 06 Juli 2018 19:03 WIB

Foto: Tribunnews

Dialeksis.com - Namanya berkibar tatkala menjadi anggota Aceh Monitoring Mission (AMM) mewakili pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dikenal sebagai juru propaganda, ia kemudian terpilih sebagai Gubernur Aceh berpasangan dengan Muhammad Nazar, pada Pilkada Langsung 2006, mewakili GAM “muda” yang kala itu menolak sikap otoriter petinggi GAM.

Putra Bireuen kelahiran Gampong Sagoe, Peusangan pada 2 Agustus 1960, memilih bergabung dengan GAM, ketika usai membaca buku Singa Aceh, ia melihat bahwa gagasan yang dibawa oleh Hasan Tiro sebagai deklarator Aceh Merdeka, merupakan panggilan perjuangan bagi putra Aceh, di manapun ia berada. Tanpa banyak gembar-gembor, ia kemudian bergabung, sembari tetap mengajar di almamaternya di Fakultes Kedoteran Hewan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Drh. Irwandi Yusuf, M. Sc, merupakan alumnus magister pada College of Veterinary Medicine State University, Oregon, United State of America, dengan status penerima beasiswa.

Menjabat sebagai Staf Khusus Komando Pusat Tentara Neugara Aceh (TNA) sejak 1998 hingga 2001, Irwandi kemudian merupakan salah satu propaganda GAM yang cukup terkenal dengan keahlian kamuflase informasi, peristiwa pengepungan Rawa Cot Trieng, Aceh Utara, pada November 2002, dengan kerapatan pasukan yang tinggi oleh TNI, merupakan hasil kamufase informasi yang ia lakukan bersama Nur Djuli, dkk.

Di dunia swadaya masyarakat, Irwandi Yusuf merupakan ikut merintis berdirinya Fauna dan Flora Internasional dan pernah pula bekerja di Palang Merah Iternasional (ICRC) pada tahun 2000.

Ia kemudian ditangkap oleh pasukan keamanan Republik Indonesia  pada tahun 2003 dengan tuduhan maker terhadap Negara, dan ditahan di penjara Keudah, Banda Aceh dengan hukuman Sembilan tahun penjara.

Kemudian karena peristiwa Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004, ia berhasil meloloskan diri dan kemudian dibawa ke Helsinki Finlandia. Ia direncanakan ikut serta dalam perundingan Helsinki antara GAM dan RI, tapi ditolak oleh RI. Irwandi selanjutnya hanya mengikuti perundingan via handphone dari sebuah kamar hotel.

Pada masa transisi ketika usai ditandatanganinya MoU Helsinki yang kemudian melahirkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh, Irwandi mewakili GAM di AMM, yang membuat ia semakin popular di mata publik, hal ini yang membuat ia dilirik sebagai kandidat gubernur oleh Komite Peralihan Aceh (KPA) untuk melawan dominasi GAM tua yang mencalonkan Humam Hamid-Hasbi Abdullah (H2O) dengan cara menyingkirkan duet Teungku Nasruddin bin Ahmed-Muhammad Nazar, yang awalnya diajukan sebagai perwakilan GAM untuk ambil bagian pada Pilkada  Langsung 2006. Zakaria Saman, disebut-sebut sebagai orang yang paling berpengaruh untuk mengganti keduanya, demi memuluskan syahwat politik pribadi.

KPA (yang dibentuk dari eks kombatan GAM) kemudian mendukung duet Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar, yang kemudian sempat dijadikan bahan olok-olok oleh beberapa dik Irwandi Yusuf. Pasangan itu kemudian berhasil menang besar di Aceh dan membalikkan hasil survey kala itu.

Ketika ia menjadi Gubernur Aceh, ia membuat sejumlah program mercusuar dengan memanfaatkan Dana  Otonomi Khusus  Aceh (DOKA) berupa program pemberian beasiswa untuk anak yatim, Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), Aceh bebas pasung, dan sejumlah program lainnya. Beasiswa anak yatim dan JKA menjadi dua program yang paling dikenang hingga saat ini.

Tahun 2012, ia kembali maju sebagai kandidat Gubernur Aceh berduet dengan Muhyan Yunan. Irwandi yang ikut mendirikan Partai Aceh, justru tidak dicalonkan oleh partai it, karena masih adanya dendam konflik internal pada 2006. Ia kala itu kalah dan pasangan Partai Aceh iatu Zaini Abdullah- Muzakkir Manaf yang kemudian menahkoda Aceh 2012-2017. Pada pilkada 2012, Cage alias Saiful, mantan Panglima GAM Wilayah Bate Iliek, tewas setelah ditembak dari jarak dekat oleh tim yang dikomandoi oleh Ayah Banta, seorang loyalis Mualem di Pase.

Ketidakmampuan pasangan Zikir menahkodai Aceh dan sejumlah kekerasan politik, membuat Irwandi kembali dikenang sebagai pemimpin yang merakyat dan bersimpati kepada rakyat kecil. Akhirnya ia tampil sebagai pemenang pada pilkada Aceh 2017 berpasangan dengan Nova Iriansyah.

Ia yang dilantik 5 Juli 2017, merancang konsep Aceh Teuga, Aceh Troe dan Aceh Hebat. Berbagai program pun dilaksanakan seperti Tsunami Cup 2017 yang sempat dikritik sebagai turnamen balas jasa dan mainan untuk adiknya Zaini Yusuf yang kemudian mendirikan Aceh United Football Club. Selanjutnya digelar Sail Sabang dan kemudian Aceh Marathon yang disebut-sebut sebagai “hadiah perkawinan” untuk istri mudanya Steefy Burase.

Pada 3 Juli 2018, Irwandi ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) daam Operasi Tangkap Tangan (OTT). Pukul 23.00 WIB, tanggal 4 Juli 2018, ia ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi Dana Otonomi Khusus pada proyek pembangunan jalan Samarkilang, Bener Meriah. Selain itu, Bupati Bener Meriah Ahmadi ikut ditangkap oleh KPK. []

Editor :
Sammy

Berita Terkait