Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Liputan Khusus / Indepth / Aceh Tenggara Dalam Ancaman Bencana Tahunan

Aceh Tenggara Dalam Ancaman Bencana Tahunan

Minggu, 10 Februari 2019 18:32 WIB

Rumah warga rusak diterjang bandang di Natam Baru, Aceh Tenggara


Aceh Tenggara Dalam Ancaman Bencana Tahunan

Kekeliruan mengelola hutan dan minimnya mitigasi bencana harus dibayar mahal oleh Pemkab Aceh Tenggara. Saban tahun, banjir luapan dan banjir bandang kerap melanda kabupaten yang terkenal dengan keindahan hutan Leuser itu. Tanpa langkah tepat dan cepat memperbaiki kerusakan alam dan mitigasi, maka Aceh Tenggara selamanya dalam ancaman bencana.

Oleh wartawan dialeksis.com

Jumat, 30 November 2018 malam, Abdussalam (60) dan warga Desa Natam Baru, Kecamatan Badar, Aceh Tenggara dikejutkan oleh banjir bandang. Air bah yang meluncur deras dari kaki bukit menerjang permukiman penduduk. Abdussalam cepat-cepat menyelamatkan diri lari ke desa yang lebih aman. Namun, rumah sekaligus warung tempat dia berjualan musnah diseret air bah.

Abdussalam di bekas rumahnya yang raib diseret banjir bandang,  di Natam Baru, Aceh Tenggara

“Tidak ada yang tersisa, sebuah sendok pun tidak ada. Dulu rumah saya di dekat tiang listrik itu,” kata Abdussalam, Minggu 3 Februari 2019, sembari menunjukkan ke arah tepi Sungai Natam. Abdussalam mengalami kerugian Rp 200 juta lebih.

Sungai Natam membelah jalan nasional Kutacane – Blangkejeren. Muaranya ke Sungai Alas sedangkan hulunya berada di hutan lindung.  Di sepanjang tepi sungai itu terdapat permukiman penduduk. Saat banjir bandang menerjang, rumah-rumah warga porak-poranda. Kayu gelondongan, batu gunung, dan pasir mengantam apa saja.

“Masih bersyukur bisa selamat. Mungkin ini cobaan dari Allah karena kita tidak bisa menjaga hutan,” kata Abdussalam.

Pemandangan Natam Baru sangat memilukan. Rumah warga sebagian hanya tinggal pondasi. Lumpur dan kayu gelondongan masih berserakan di permukiman.  Sungai Natam yang dulu airnya jernih, kini dipenuhi sedimentasi dan airnya keruh. Dari jauh di punggung bukit, bekas longsoran terlihat jelas. “Kemungkinan terjadi lagi (bandang) kalau hujan deras. Kami harus waspada,” ujarnya.

Banjir bandang yang terjadi sejak September 2018 hingga Januari 2019 di Aceh Tenggara mengakibatkan kerugian mencapai Rp 105 miliar. Kerugian dihitung dari kerusakan infrastruktur, jalan, rumah penduduk, dan lahan pertanian.

Pihak yang paling merasakan dampak buruk dari bencana adalah warga, tidak sedikit korban yang jatuh miskin secara tiba-tiba karena harta bendanya musnah ditelan bencana alam.

Kerusakan hutan

Ini bukan kali pertama Aceh Tenggara dilanda banjir bandang. Pada April 2012, banjir bandang menerjang Kecamatan Tusam.  Sedikitnya 300 rumah warga rusak.  Pada Agustus 2012, banjir bandang kembali menerjang Aceh Tenggara, kali yang menjadi sasaran Kecamatan Leuser. sebanyak 50 rumah dan 15 orang hilang.

Beberapa hari kemudian, Kepala Polda Aceh saat itu, Irjen Iskandar Hasan menyeubutkan banjir bandang di Aceh Tenggara dipicu oleh kerusakan hutan, yakni pembalakan liar dan perambahan.

Pada 2017 banjir bandang kembali melanda Aceh Tenggara. Kawasan yang terkena adalah Kecamatan Lawe Sigala Gala, Seumadan, dan Babul Makmur. Sebanyak 391 rumah rusakdan sebanyak 2.476 warga mengungsi. Bandang kali ini juga menelan dua korban jiwa.

Kala itu, Gubernur Aceh Zaini Abdullah mengatakan, kerusakan hutan di Aceh Tenggara terjadi masif dan telah memicu bencana alam.  Zaini menyerukan penghentikan pembalakan liar dan kembalikan keasrian hutan. Direktur Walhi Aceh Muhammad Nur juga senada dengan Zaini, degradasi lingkungan membuat bencana datang berulang-ulang.

Pada Sabtu, 2 Februari 2019, istri Plt Gubernur Aceh, Dyah Erti Idawati saat melakukan bakti sosial untuk korban bencana di Aceh Tenggara mengatakan hal yang sama, yakni pengrusakan hutan adalah punca utama terjadinya bencana itu.

Artinya, para pihak telah sepakat, salah satu penyebab bencana banjir dan bandang di Aceh Tenggara karena kerusakan hutan. Namun, sayangnya ucapan itu tidak sejalan dengan semangat perbaikan hutan. Perambahan dan pembalakan liar masih terus terjadi.

Laporan terbaru oleh Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh (HAkA), pada tahun 2018, Aceh Tenggara mengalami kehilangan tutupan hutan seluas 489 hektar di hutan lindung dan 807 hektar di Taman Nasional Gunung Leuser. HAkA juga menyebutkan, kondisi daerah aliran sungai di Aceh Tenggara dalam keadaan rusak.

Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Wilayah V Irwandi mengakui pencegahan kerusakan hutan masih menjadi tantangan besar di Aceh Tenggara. Kata Irwandi pengawasan di dalam kawasan ditingkatkan agar tidak ada aksi perambahan.

Menurut Irwandi, area perkebunan warga yang berada di sepanjang lereng juga perlu ditanami pohon kehutanan untuk menjaga fungsi hutan. Selama ini warga banyak menanam jagung, cabai, dan palawija. “Perlu edukasi buat petani bahwa sangat penting menanam pohon kehutanan,” kata Irwandi.

Bupati Aceh Tenggara Raidin Pinim mengatakan perambahan hutan jadi persoalan klasik di Aceh Tenggara. Pasalnya lebih separuh kabupaten itu adalah kawasan hutan. Sementara pada saat yang sama warga membutuhkan lahan pertanian. Namun, kata Raidin, dengan adanya program konservasi kemitraan di Leuser diharapkan hutan terjaga dan warga sejahtera.

Sementara Direktur Forum Konservasi Leuser Rudi Putra mengatakan setidaknya ada 30.000 hektar hutan di Aceh Tenggara yang perlu dipulihkan. Jika hutan tidak segera dipulihkan jangan heran bencana serupa akan terulang pada tahun-tahun berikutnya.

Editor :
Im Dalisah

Komentar Anda