DIALEKSIS.COM | Jantho - Puluhan jamaah dari berbagai daerah di Provinsi Aceh mengikuti ibadah suluk Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi yang dipusatkan di Dayah Darul Aman, Gampong Lampuuk Tungkop, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar.
Peserta suluk tahun ini berjumlah 64 orang. Mereka datang dari sejumlah kabupaten/kota, di antaranya Aceh Utara, Aceh Timur, Bireuen, Aceh Jaya, serta daerah lainnya di Aceh.
Ketua Yayasan Dayah Darul Aman, Tgk Saifullah, mengatakan ibadah suluk di pesantren tersebut rutin dilaksanakan setiap bulan suci Ramadan.
“Ibadah suluk setiap tahun kami laksanakan pada bulan puasa Ramadhan. Tahun ini ada sebanyak 64 orang ikut jamaah suluk. Jumlah tersebut berkurang dari tahun lalu yang mencapai seratusan orang,” kata Tgk Saifullah kepada media dialeksis.com di Aceh Besar, Senin (23/2/2026).
Ia menjelaskan, berkurangnya jumlah jamaah tidak terlepas dari dampak bencana hidrometeorologi yang melanda sebagian wilayah Aceh pada akhir November 2025.
“Sebagian jamaah yang biasa mengikuti ibadah suluk ikut menjadi korban bencana, ada yang rumahnya terbawa banjir, ada juga yang tertimbun lumpur,” ujarnya.
Meski demikian, lanjut dia, sejumlah jamaah yang terdampak bencana tetap mengikuti suluk. Mereka menilai ibadah tersebut dapat membantu menenangkan diri dan memulihkan kondisi batin.
“Ibadah suluk semacam penyucian jiwa, di mana jamaah berzikir dalam hati untuk mencapai ketenangan dan kedekatan dengan Allah SWT. Ibadah suluk ini dilaksanakan selama bulan suci Ramadhan,” katanya.
Menurut Tgk Saifullah, pelaksanaan suluk tidak dibatasi usia. Umumnya jamaah didominasi individu berusia di atas 50 tahun, baik laki-laki maupun perempuan. Namun, terdapat pula peserta dari kalangan mahasiswa.
Selama menjalani suluk, jamaah diwajibkan mematuhi aturan yang telah ditetapkan, termasuk dalam hal konsumsi makanan. Jamaah tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan berlemak dan daging.
“Selama melaksanakan ibadah suluk, jamaah hanya memakan sayuran atau vegetarian. Ini untuk menghindari emosi yang bisa mempengaruhi jamaah saat menjalani ibadah suluk,” ujar Tgk Saifullah.
Suluk merupakan ibadah yang berfokus pada zikir. Zikir dilakukan siang dan malam hingga mencapai 70 ribu kali. Peserta berzikir dalam hati, dan sebagian menutup kepala dengan kain agar lebih fokus.
Tradisi suluk di Aceh mulai berkembang pada 1970-an yang dibawa oleh ulama kharismatik Aceh, Abuya Sjech Muda Waly Al Khalidi. Ibadah tersebut kemudian disebarluaskan oleh para muridnya ke berbagai daerah di Aceh dan terus dilaksanakan hingga saat ini. [nh]