Senin, 01 Juni 2026
Beranda / Ekonomi / Wamenkeu Beberkan 3 Strategi Fiskal Hadapi Perang Tarif dan Geopolitik

Wamenkeu Beberkan 3 Strategi Fiskal Hadapi Perang Tarif dan Geopolitik

Senin, 01 Juni 2026 13:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengungkapkan strategi fiskal yang ditempuh pemerintah untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. [Foto: dok. Kemenkeu/Cahyo Afif Nugroho]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengungkapkan strategi fiskal yang ditempuh pemerintah untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global akibat perang tarif, perlambatan ekonomi dunia, hingga tensi geopolitik.

Menurut Juda, pemerintah menerapkan tiga strategi utama di bidang fiskal agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga tanpa mengorbankan stabilitas makroekonomi dan kesehatan APBN.

Strategi pertama adalah pengendalian belanja negara melalui refocusing anggaran ke sektor-sektor yang lebih produktif. Belanja pemerintah diarahkan untuk mendorong permintaan dan penawaran, meningkatkan kapasitas produksi, serta menciptakan lapangan kerja baru. 

Pada saat yang sama, pemerintah tetap menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas inflasi. 

"Kita akan fokus pada pengeluaran yang mendorong demand, yang mendorong supply, mendorong produksi, dan juga mendorong menciptakan lapangan pekerjaan," ujar Juda yang dilansir pada Senin (1/6/2026).

Strategi kedua dilakukan melalui optimalisasi penerimaan negara. Pemerintah memanfaatkan momentum harga komoditas sekaligus memperkuat penerimaan perpajakan melalui implementasi sistem Coretax guna meningkatkan efektivitas administrasi pajak.

Sementara strategi ketiga berasal dari sisi pembiayaan. Pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat dengan mendiversifikasi sumber pembiayaan melalui penerbitan surat utang dalam mata uang lain, seperti Yen Jepang, Renminbi China, dan Dolar Australia.

Juda menilai kombinasi strategi tersebut berhasil menjaga kinerja ekonomi nasional. Pada kuartal I 2026, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,61%, sementara inflasi tetap terkendali di level 2,42%. Di sisi fiskal, defisit APBN hingga April 2026 berada di angka 0,64%, sedangkan yield Surat Berharga Negara (SBN) dan spread juga tetap terjaga.

"Empat indikator ini, yaitu pertumbuhan, inflasi, defisit fiskal, dan yield SBN menunjukkan fiskal kita masih kuat. Strategi yang kita ambil bekerja dengan baik," katanya. [*]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI