DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kunjungan pertama ke Aceh meninggalkan kesan mendalam bagi Afina Syifa Biladina. Kreator konten sekaligus finalis Miss Universe Indonesia 2025 itu mengaku tak hanya terpukau oleh keindahan alam dan keramahan masyarakat Aceh, tetapi juga tersentuh melihat langsung kondisi warga yang hingga kini masih berjuang bangkit dari dampak bencana banjir.
Melalui unggahan di akun Instagram @afinasyf, Afina menyampaikan pesan yang kuat kepada publik agar tidak melupakan kondisi masyarakat Aceh yang masih membutuhkan perhatian dan bantuan.
“Don't stop talking about Aceh. Siapa bilang Aceh sudah pulih dan semua sudah tertangani dengan merata? Belum,” tulis Afina dalam unggahannya yang dilansir media dialeksis.com, Senin (1/6/2026).
Pernyataan tersebut lahir setelah dirinya menyaksikan secara langsung kehidupan warga di sejumlah wilayah terdampak bencana, termasuk di Desa Reje Payung, Kabupaten Aceh Tengah. Menurut Afina, di balik pemberitaan yang mulai mereda, masih banyak masyarakat yang menghadapi berbagai kesulitan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Ia menuturkan bahwa sejumlah anak-anak masih harus belajar di tenda darurat karena fasilitas pendidikan yang belum sepenuhnya pulih. Kondisi tersebut semakin berat ketika cuaca panas menyengat pada siang hari.
“Anak-anak masih belajar di tenda. Kalau siang panasnya terasa banget sampai mereka sering minta pulang lebih cepat,” ungkapnya.
Bagi Afina, pemandangan itu menjadi gambaran nyata bahwa proses pemulihan pascabencana tidak sesederhana yang terlihat dari luar. Banyak persoalan yang masih dihadapi masyarakat, mulai dari sarana pendidikan hingga pemulihan ekonomi keluarga.
Ia juga menyoroti nasib para petani yang kehilangan sumber penghasilan akibat banjir yang melanda kawasan tersebut. Sawah yang selama ini menjadi tumpuan hidup masyarakat rusak dan tersapu arus banjir, sehingga berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi keluarga.
“Banyak keluarga juga kehilangan mata pencaharian. Sawah yang selama ini jadi sumber hidup mereka tersapu banjir,” katanya.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Afina mengaku terharu dengan sikap masyarakat yang tetap menunjukkan keramahan dan semangat untuk bangkit. Pengalaman itu ia rasakan saat berkunjung ke Desa Reje Payung.
Menurutnya, warga menyambut kedatangannya bersama relawan dan rekan-rekan lainnya dengan penuh kehangatan. Berbagai sajian sederhana yang disiapkan masyarakat justru meninggalkan kesan mendalam baginya.
“Pertama kali menginjakkan kaki di Aceh. Bukan cuma dibuat takjub sama pemandangan dan alamnya yang cantik banget, tapi juga dibuat kaget sama situasi pascabencana yang ternyata kondisinya masih serba sulit,” ujarnya.
Afina mengaku tersentuh saat warga tetap berusaha menjadi tuan rumah yang baik di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih.
“Meski begitu, aku terharu banget. Di tengah keterbatasan, kedatanganku dan teman-teman lain disambut hangat sama warga Desa Reje Payung. Mulai dari sajian kopi sampai masakan sederhana dari warga yang sukses bikin hati aku merasa penuh,” katanya.
Namun di balik keramahan tersebut, Afina melihat perjuangan berat yang masih harus dijalani masyarakat. Bekas-bekas bencana masih terlihat jelas di sejumlah titik, mengingatkan bahwa pemulihan membutuhkan waktu, dukungan, dan perhatian yang berkelanjutan.
“Di balik indahnya tempat ini, ternyata masyarakat di sini masih berjuang menghadapi dampak banjir pascabencana. Beberapa titik masih terasa banget bekasnya,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut membuat Afina semakin menyadari bahwa Aceh masih membutuhkan perhatian publik. Ia berharap masyarakat luas tidak berhenti membicarakan kondisi yang terjadi dan terus memberikan dukungan kepada warga terdampak.
Menurutnya, perhatian publik memiliki peran penting untuk memastikan proses pemulihan berjalan hingga masyarakat benar-benar bisa bangkit kembali.
“Karena mereka masih butuh perhatian, bantuan, dan suara kita,” ujarnya.
Afina berharap semakin banyak pihak yang tergerak untuk membantu, baik melalui dukungan kemanusiaan, perhatian sosial, maupun penyebaran informasi mengenai kondisi masyarakat yang masih membutuhkan uluran tangan.
“Jangan berhenti bicara tentang Aceh,” pesannya. [nh]