Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Biaya Perang AS-Iran Membengkak Jadi Rp506 Triliun

Biaya Perang AS-Iran Membengkak Jadi Rp506 Triliun

Rabu, 13 Mei 2026 15:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Ilustrasi Biaya Perang. Foto: Freepik


DIALEKSIS.COM | Washington - Kementerian Pertahanan Amerika Serikat mengungkapkan biaya perang melawan Iran kini diperkirakan mencapai US$29 miliar atau sekitar Rp506 triliun. Angka tersebut meningkat dari estimasi awal sebesar US$25 miliar atau sekitar Rp436 triliun.

Pengawasan Keuangan Pentagon, Jay Hurst, menyampaikan proyeksi terbaru itu dalam rapat bersama parlemen di Kongres AS, Selasa (12/5). Ia menjelaskan, tambahan anggaran digunakan untuk mengganti amunisi, memperbaiki peralatan militer, serta mendukung operasional pasukan.

“Pada rapat sebelumnya jumlahnya 25 miliar dolar AS, tetapi setelah tim staf gabungan terus meninjau perkiraan tersebut, kini kami menilai totalnya mendekati 29 miliar dolar AS,” kata Hurst dalam siaran langsung yang dikutip dari USA Today.

Menurut Hurst, dana tersebut juga dialokasikan guna memastikan operasional pangkalan militer tetap berjalan selama konflik berlangsung.

Kenaikan biaya perang itu memicu kekhawatiran sejumlah anggota parlemen terkait beban anggaran negara dan kondisi persediaan senjata Amerika Serikat yang dinilai mulai menipis.

Dalam rapat yang sama, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mendapat sejumlah pertanyaan terkait stok amunisi militer Washington. Namun, ia membantah klaim bahwa AS kehabisan persediaan senjata.

“Saya tidak setuju bahwa amunisi menipis. Itu tidak benar,” ujar Hegseth.

Meski demikian, ia mengakui pemerintahan Presiden Donald Trump saat ini sedang berupaya meningkatkan produksi persenjataan untuk memperkuat kesiapan militer AS.

Selain soal anggaran dan persenjataan, Hegseth juga ditanya mengenai kemungkinan penghentian perang dengan Iran. Ia menegaskan pemerintah AS memiliki berbagai skenario, mulai dari meningkatkan intensitas operasi hingga menarik pasukan apabila diperlukan.

“Kami memiliki rencana untuk melakukan penundaan operasi jika diperlukan. Kami juga memiliki rencana untuk memindahkan aset-aset militer,” katanya seperti dikutip Euronews.

Konflik antara AS dan Iran memanas sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Teheran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta aset militer AS di kawasan Teluk.

Pertempuran berlangsung hingga kedua negara menyepakati gencatan senjata selama dua pekan yang dimulai pada 8 April. Kesepakatan tersebut kemudian diperpanjang tanpa batas waktu yang pasti.

Saat ini, Amerika Serikat, Iran, dan Pakistan selaku mediator masih berupaya membuka jalur negosiasi untuk mencapai gencatan senjata permanen. Namun, perundingan belum membuahkan hasil akibat perbedaan tajam, terutama terkait program nuklir Iran.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI