DIALEKSIS.COM | Jakarta - Sektor industri pengolahan kembali mencatatkan kinerja positif pada 2025. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan industri pengolahan mencapai 5,30% atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,11%.
Capaian ini menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya dalam 14 tahun terakhir pertumbuhan industri kembali melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Sebelumnya kondisi serupa terakhir terjadi pada 2011.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan salah satu subsektor yang berperan dalam memperkuat kinerja industri nasional adalah industri furnitur. Menurutnya, sektor ini memiliki potensi besar karena mampu menciptakan nilai tambah sekaligus menyerap banyak tenaga kerja.
“Industri furnitur merupakan model hilirisasi kayu yang krusial karena bersifat padat karya, mampu menciptakan nilai tambah, serta memberikan efek berganda bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri,” kata Agus dalam keterangannya, Jumat (6/3).
Di sisi lain, pemerintah mencatat industri furnitur masih menghadapi sejumlah tantangan. Pada 2025, ekspor furnitur Indonesia tercatat turun sekitar 3% menjadi USD 1,85 miliar, sementara impor justru naik sekitar 6% menjadi USD 0,82 miliar.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika menyebut pemerintah terus menyiapkan langkah penguatan industri, termasuk modernisasi mesin dan peningkatan daya saing agar produk furnitur nasional mampu kembali memperluas pasar ekspor.
“Kami berkomitmen mendorong transformasi industri furnitur tidak hanya sekadar produsen namun juga menjadi pusat manufaktur global yang berbasis desain dan keberlanjutan,” ujar Putu.[in]