DIALEKSIS.COM | Jakarta - Sektor industri pengolahan mencatat pertumbuhan 5,30% sepanjang 2025, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,11%. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kinerja tersebut ditopang kuat oleh industri agro yang terus menjadi kontributor terbesar pada industri pengolahan nonmigas.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, hingga Desember 2025 industri agro berkontribusi 52,09% terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.
“Capaian ini menunjukkan peran penting sektor industri agro dalam memperkuat struktur industri nasional,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).
Salah satu subsektor yang menjadi perhatian adalah pengolahan kakao. Pemerintah mencatat kapasitas grinding dalam negeri mulai terdorong seiring meningkatnya pasokan biji kakao domestik sejak awal 2025. Plt. Dirjen Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan, volume grinding kakao nasional tumbuh 4,43% menjadi 422.176 ton, dengan kontribusi devisa mencapai US$3,42 miliar.
“Prestasi ini menempatkan Indonesia sebagai produsen kakao olahan keempat terbesar di dunia. Saat ini Indonesia menyuplai 8,46% kebutuhan kakao olahan global,” kata Putu. Produk yang diekspor meliputi cocoa butter, cocoa liquor, cocoa cake, hingga cocoa powder.
Pemerintah juga menyiapkan sejumlah langkah untuk memperkuat hulu hingga hilir, mulai dari integrasi komoditas kakao ke dalam skema pendanaan perkebunan, revitalisasi kebun, hingga restrukturisasi mesin industri pengolahan cokelat. Dari sisi eksternal, penundaan kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR) serta tarif 0% dari Amerika Serikat untuk produk kakao Indonesia dinilai membuka ruang ekspansi ekspor yang lebih luas.
Ke depan, Indonesia akan menjadi tuan rumah The 9th Indonesia International Cocoa Conference (IICC) pada 22-24 Juli 2026 di Yogyakarta. Pemerintah berharap momentum ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri kakao di Asia sekaligus pemain kunci dalam rantai pasok global. [in]