Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / BPMA Kejar Pemulihan Produksi Migas Pasca Gangguan Operasional Akibat Bencana

BPMA Kejar Pemulihan Produksi Migas Pasca Gangguan Operasional Akibat Bencana

Senin, 02 Februari 2026 13:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Kepala BPMA, Nasri Djalal dalam kegiatan Aceh Upstream Oil dan Gas Supply Change Management Summit 2026, di Banda Aceh, Senin (2/2/2026). [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) bergerak cepat memulihkan produksi minyak dan gas bumi yang sempat terganggu akibat cuaca ekstrem dan bencana banjir di sejumlah wilayah kerja migas di Aceh.

Kepala BPMA, Nasri Djalal mengakui kerusakan cukup serius terjadi di lapangan. Gangguan tersebut berdampak langsung pada operasional beberapa Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), terutama pada infrastruktur vital seperti jaringan pipa dan fasilitas produksi.

“Yang paling terdampak itu jaringan pipa. Banyak yang rusak dan bocor. Beberapa fasilitas, khususnya di Aceh Timur, sempat tidak bisa diakses sehingga pekerja tidak bisa masuk,” jelas Nasri kepada awak media di Aceh Upstream Oil dan Gas Supply Change Management Summit 2026, di Banda Aceh, Senin (2/2/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut sempat menghentikan sementara aktivitas produksi di sejumlah titik. Namun BPMA bersama KKKS terkait segera melakukan langkah tanggap darurat berupa pembersihan lokasi, perbaikan infrastruktur, serta memastikan standar keselamatan tetap terjaga sebelum operasi kembali dijalankan.

“Per 1 Februari pukul 00.00 tadi malam, beberapa lapangan sudah mulai mengalirkan kembali produksi. Perusahaan seperti Triangle Pasir dan Medco sudah mulai berproduksi lagi,” katanya.

BPMA menargetkan seluruh fasilitas utama yang terdampak dapat kembali beroperasi normal paling lambat awal Maret mendatang. Percepatan ini dinilai penting karena berhentinya produksi berimbas langsung pada penerimaan negara dan daerah.

Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang agar produksi migas Aceh tidak hanya pulih pascabencana, tetapi juga tumbuh berkelanjutan.

Dalam hal ini, kolaborasi yang kuat antara pusat, daerah, dan investor menjadi kunci agar Aceh mampu naik kelas dalam industri migas nasional sekaligus berkontribusi pada kemandirian energi Indonesia.

“Kalau tidak berproduksi, tentu tidak ada minyak dan gas yang dijual. Artinya tidak ada penerimaan, baik bagi negara maupun bagi Aceh. Karena itu kita kebut perbaikan agar dampaknya tidak berkepanjangan,” tutup Nasri. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI