Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Banyak Huntara Korban Banjir Aceh Dibangun Jauh dari Permukiman Warga

Banyak Huntara Korban Banjir Aceh Dibangun Jauh dari Permukiman Warga

Minggu, 01 Februari 2026 23:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Hunian sementara (Huntara) korban banjir Aceh Tamiang. Foto: YouTube Sekretariat Presiden. 


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Yayasan Arkom Indonesia menyoroti persoalan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak bencana yang dinilai kerap dibangun jauh dari permukiman asal masyarakat. Kondisi ini disebut memunculkan persoalan sosial dan ekonomi baru bagi penyintas.

Hal tersebut disampaikan Cut Puan Tiszani Pasha, Koordinator Wilayah Aceh Yayasan Arkom Indonesia, kepada dialeksis.com, Minggu (1/2/2026). 

Berdasarkan pengalaman pendampingan di lapangan terutama di Aceh Tamiang, relokasi sementara sering kali tidak mempertimbangkan realitas kehidupan warga.

“Pengalaman kami menunjukkan relokasi kerap tidak mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat. Banyak huntara dibangun jauh dari rumah asal, lahan kerja, bahkan sekolah anak-anak,” ujar Puan.

Ia menjelaskan, pemindahan warga ke lokasi baru belum tentu menjadi solusi terbaik. “Dipindahkan ke tempat baru belum tentu cocok. Huntara kadang jauh dari sekolah dan sumber penghidupan. Itu menambah beban psikologis dan ekonomi bagi keluarga terdampak,” jelasnya.

Menurut Puan, pemulihan pascabencana seharusnya tetap menjaga jejaring sosial warga serta akses terhadap sumber penghidupan, bukan justru memutuskannya.

Selain persoalan huntara, Arkom juga menyoroti pendekatan rekonstruksi yang dinilai terlalu berorientasi pada proyek fisik semata. Puan mengkritik program pembangunan rumah yang sepenuhnya diserahkan kepada kontraktor tanpa melibatkan masyarakat.

“Kalau program hanya untuk kontraktor, masyarakat cuma duduk jadi penonton. Padahal mereka punya daya juang tinggi dan ingin membangun kembali kehidupannya,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan partisipatif bukan hanya soal keadilan, tetapi juga menentukan keberlanjutan hasil pembangunan.

Dalam proses pemulihan, Puan juga mengingatkan agar relawan dan lembaga kemanusiaan tidak menempatkan diri sebagai penyelamat.

“Penyintas masih banyak yang mengalami stres. Fungsi kita bukan jadi juru selamat, tapi jadi kawan. Bangun hubungan percaya, berjalan bersama mereka,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kepercayaan antara masyarakat dan pendamping menjadi fondasi penting dalam pemulihan jangka panjang.

“Kunci pemulihan bukan hanya membangun kembali fisik, tapi membangun kembali rasa memiliki dan kendali masyarakat atas ruang hidupnya,” tutup Puan.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI