Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Bonsai di Aceh, Sekadar Hobi atau Ladang Cuan?

Bonsai di Aceh, Sekadar Hobi atau Ladang Cuan?

Rabu, 18 Februari 2026 09:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Farid Nyak Umar Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Kota Banda Aceh. Foto: tangkapan layar Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Potensi bisnis bonsai di Aceh semakin terbuka lebar, tidak hanya sebagai hobi estetis tetapi juga sebagai komoditas ekonomi yang mampu menyerap minat kolektor dan wisatawan. Demikian disampaikan Farid Nyak Umar Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Kota Banda Aceh saat merespons perkembangan pasar tanaman hias dan pertumbuhan komunitas pecinta bonsai di daerah ini.

Menurut Farid, bonsai memiliki nilai tambah yang jelas: produk yang unik, membutuhkan perawatan ahli, dan bisa dipasarkan pada segmen premium baik di dalam maupun luar negeri.


Koleksi bonsai milik ketua DPRK Kota Banda Aceh, Farid Nyak Umar. Foto: Serambi/Firdha Ustin


“Bonsai bukan sekadar tanaman ia adalah karya seni yang bernilai ekonomi. Dengan pengelolaan yang tepat, pembibitan berkualitas, dan pelatihan bagi pengrajin lokal, Aceh bisa menjadi salah satu sentra bonsai yang diandalkan,” ujar Farid dalam keterangannya kepada media Dialeksis (18/02/2026).

Dia menjelaskan beberapa jalur bisnis yang bisa dikembangkan: penjualan bibit dan tanaman jadi, jasa perawatan dan pembentukan, kursus teknik bonsai, serta penyelenggaraan pameran dan lelang yang menarik kolektor. Selain itu, paket wisata hortikultura berbasis kebun atau nurseri bonsai berpotensi menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara, khususnya pengunjung yang mencari pengalaman kultural dan estetika.

Farid menekankan pentingnya kolaborasi antara komunitas, pemerintah daerah, dan sektor swasta. Dukungan berupa fasilitasi pelatihan, inkubasi usaha UMKM, sertifikasi tanaman, serta akses pasar digital akan mempercepat skala usaha. 

“Pembinaan berkelanjutan dan akses ke modal mikro akan membantu para pecinta bonsai berubah status dari hobiis menjadi pelaku usaha,” tambahnya.

Tantangan yang disebutkan Farid antara lain ketersediaan bibit bermutu, pemahaman pasar ekspor, serta kebutuhan akan standar karantina tanaman untuk pengiriman antarwilayah dan internasional. Untuk mengatasi hal itu, Farid mengusulkan pendirian pusat pelatihan terpadu dan kerja sama dengan lembaga akademik atau balai pembibitan setempat untuk riset varietas yang cocok dengan iklim Aceh.

Menutup pernyataannya, Farid optimistis bahwa dengan langkah strategis dan dukungan multi-pihak, bonsai dapat menjadi sektor ekonomi kreatif yang memberi manfaat langsung bagi komunitas lokal. 

“Ini peluang nyata bagi pecinta bonsai di Aceh untuk meningkatkan kesejahteraan sambil melestarikan seni dan kearifan lokal,” tutupnya.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI