DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Mayoritas bisnis perhotelan di Aceh masih bergulat dengan sepinya pengunjung. Kondisi ini membuat para pengelola hotel kesulitan menutup biaya operasional, bahkan untuk sekadar membayar gaji karyawan.
Situasi tersebut dirasakan langsung oleh manajemen Hotel Grand Nanggroe, Banda Aceh. Human Resources Development (HRD) Hotel Grand Nanggroe, M Ali Daud, mengungkapkan bahwa rendahnya tingkat hunian hotel salah satunya dipicu oleh kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang berdampak pada berkurangnya kegiatan dan acara di hotel.
“Selama kebijakan efisiensi ini, memang terjadi penurunan yang sangat signifikan, baik tamu menginap maupun event. Kadang-kadang kamar yang terisi hanya tiga, bahkan pernah juga kosong. Ini bukan hanya terjadi di hotel kami, hotel lain juga mengalami hal yang sama,” ujar Ali kepada Dialeksis, Senin.
Ia menyebutkan, bahkan hotel berbintang lima di Banda Aceh turut terdampak. Meski demikian, beberapa hotel besar masih mampu bertahan dengan tingkat hunian sekitar 40 persen. Sementara Hotel Grand Nanggroe, kata dia, kerap kesulitan mencapai okupansi 10 persen.
Kondisi semakin memburuk ketika bencana banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah di Aceh. Gangguan pasokan listrik membuat biaya operasional melonjak drastis.
“Kami memang punya genset, tapi biaya operasional jadi sangat tinggi. Bisa mencapai puluhan juta rupiah untuk beli solar. Sementara hotel tetap harus beroperasi, lampu harus menyala,” jelasnya.
Ali menambahkan, sejak awal tahun 2025 manajemen terpaksa mengurangi jumlah karyawan karena ketidakmampuan membayar gaji secara penuh. Karyawan yang masih bertahan saat ini adalah mereka yang bersedia bersabar di tengah kondisi sulit.
Di sisi lain, beban perusahaan kian berat dengan adanya kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) Aceh, ditambah kewajiban lain sesuai qanun daerah dan instruksi pemerintah pusat, seperti pembayaran uang meugang dan Tunjangan Hari Raya (THR).
“Pimpinan juga pusing. Operasional hampir tidak ada. Kalau situasinya lancar seperti dulu, tentu tidak ada masalah,” ungkapnya.
Ali berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret untuk membantu sektor perhotelan, salah satunya dengan memperbanyak penyelenggaraan kegiatan dan event di hotel.
“Kami berharap ada event-event dari dinas, asosiasi, atau kegiatan lain yang dilaksanakan di perhotelan, supaya sektor ini bisa kembali bergerak,” pungkasnya.