DIALEKSIS.COM | Davos - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan rencana pertemuan trilateral antara pejabat Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung Jumat hingga Sabtu di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
Pertemuan ini disebut sebagai yang pertama kalinya sejak perang Rusia-Ukraina meletus hampir empat tahun lalu, di tengah dorongan kuat Washington untuk mempercepat proses perdamaian.
Pernyataan itu disampaikan Zelenskyy usai bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di sela Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss.
Ia menyebut diskusi dengan Trump berjalan “produktif dan substantif”, terutama terkait jaminan keamanan bagi Ukraina dan rencana pemulihan ekonomi pascaperang. “Dokumen-dokumen sekarang bahkan lebih siap,” ujar Zelenskyy, Kamis (22/1/2026).
Zelenskyy menilai pembicaraan di Abu Dhabi sebagai langkah positif dalam membuka jalur diplomasi langsung. “Saya pikir ini bagus. Ini akan menjadi pertemuan trilateral pertama,” katanya.
Meski demikian, hingga kini Rusia belum memberikan komentar resmi terkait rencana pertemuan tersebut.
Trump, di sisi lain, menggambarkan pertemuannya dengan Zelenskyy sebagai pertemuan yang “baik”, namun menegaskan bahwa upaya mengakhiri perang masih merupakan “proses yang sedang berlangsung”. Ia kembali mengklaim bahwa Moskow dan Kyiv sebenarnya sudah mendekati kesepakatan.
“Jika mereka tidak menyelesaikannya, mereka bodoh -- itu berlaku untuk keduanya,” kata Trump.
Sebelumnya, utusan khusus AS Steve Witkoff mengatakan bahwa negosiasi antara Rusia dan Ukraina telah mencapai tahap krusial.
“Saya pikir kita telah sampai pada satu isu terakhir, dan itu berarti isu tersebut bisa diselesaikan,” ujarnya di hadapan peserta WEF. Ia menambahkan, “Jika kedua belah pihak ingin menyelesaikan ini, kita akan menyelesaikannya.”
Meski pembicaraan damai terus digulirkan, situasi di lapangan masih memanas. Serangan Rusia pekan ini menyebabkan ribuan bangunan di Kyiv kehilangan listrik dan pemanas di tengah suhu di bawah nol derajat. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengingatkan agar dunia internasional tidak lengah.
“Pembicaraan damai itu penting, tetapi Ukraina masih membutuhkan bantuan militer. Ini tidak akan selesai besok,” tegasnya. [Al Jazeera & News Agencies]