DIALEKSIS.COM | Israel - Pemilihan umum Israel belum menghasilkan pemenang yang jelas. Meski hampir 90 persen suara telah dihitung, dua blok politik utama, yakni pendukung Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan oposisi pimpinan Gadi Eisenkot, sama-sama belum memperoleh 61 kursi parlemen yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan.
Komite Pemilihan Umum Pusat Israel melaporkan telah menghitung lebih dari lima juta suara hingga Rabu (28/10/2026) pukul 21.00 waktu setempat. Hasil sementara menunjukkan blok Netanyahu diperkirakan memperoleh 53 kursi di Knesset yang memiliki 120 anggota. Sementara itu, blok oposisi diproyeksikan meraih 48 kursi.
Di sisi lain, partai-partai Arab, termasuk Joint List dan Ra’am, berpotensi mengantongi total 19 kursi. Angka tersebut menjadi pencapaian tertinggi bagi kekuatan politik Arab dalam pemilu Israel.
Hasil akhir diperkirakan baru diumumkan paling cepat Kamis malam. Namun, penghitungan lebih dari 500.000 surat suara khusus masih berpotensi mengubah komposisi kursi parlemen. Surat suara tersebut berasal dari tentara, diplomat, dan pemilih yang memberikan suara di luar TPS tempat mereka terdaftar.
Netanyahu Belum Kehilangan Peluang
Pemilu ini menjadi yang pertama sejak serangan 7 Oktober 2023 dan perang Israel di Gaza. Kontestasi politik tersebut secara luas dipandang sebagai referendum terhadap kepemimpinan Netanyahu.
Meski belum memperoleh mayoritas, Netanyahu masih memiliki peluang mempertahankan kekuasaan. Ia akan tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara hingga pemerintahan baru terbentuk.
Presiden Israel Isaac Herzog dijadwalkan memulai konsultasi dengan para pemimpin partai pekan depan setelah hasil resmi diumumkan. Herzog juga meminta seluruh kekuatan politik menghindari pemilu ulang yang berpotensi memperpanjang kebuntuan pemerintahan.
Sejumlah analis memperkirakan Netanyahu dapat mengupayakan pemerintahan persatuan, termasuk dengan melibatkan Eisenkot. Namun, peluang tersebut belum pasti karena Eisenkot sebelumnya menolak membentuk pemerintahan minoritas bersama partai-partai Arab.
Partisipasi Pemilih Arab Jadi Sorotan
Tingginya partisipasi pemilih Arab turut menjadi sorotan dalam pemilu kali ini. Partai Likud pimpinan Netanyahu bahkan menuding adanya kecurangan yang melibatkan partai-partai Arab.
Likud mengklaim memiliki bukti dugaan penyuapan, intimidasi, kekerasan, pemalsuan, hingga penggunaan perangkat lunak ilegal dalam mobilisasi pemilih. Partai tersebut menyatakan akan menyerahkan ratusan bukti kepada kepolisian, Shin Bet, dan Komite Pemilihan Umum Pusat.
Sebaliknya, Joint List menilai partisipasi pemilih Arab berperan penting dalam menggagalkan upaya Netanyahu dan koalisinya meraih mayoritas.
Pemimpin Joint List, Yousef Jabareen, menyatakan pihaknya terbuka mendukung pemerintahan alternatif yang menentang Netanyahu dari luar koalisi, tetapi tidak akan bergabung sebagai bagian dari pemerintahan tersebut.
Dengan hasil sementara yang masih dinamis, arah pembentukan pemerintahan Israel berikutnya masih bergantung pada hasil penghitungan akhir dan negosiasi antarpartai. [Aljazeera, Anadolu]