DIALEKSIS.COM | Internasional - Iran disebut memasuki perundingan di Islamabad dengan posisi yang lebih percaya diri. Hal ini disampaikan Profesor Zohreh Kharazmi dari Universitas Teheran, yang menilai berlangsungnya negosiasi menunjukkan adanya pergeseran sikap Amerika Serikat (AS).
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Kharazmi mengungkapkan bahwa sebelumnya, tepatnya pada 6 Maret, mantan Presiden AS Donald Trump sempat menuntut penyerahan tanpa syarat. Namun kini, menurutnya, Washington justru kembali ke meja perundingan.
“Iran tetap teguh dengan syarat-syaratnya,” ujar Kharazmi. Ia menambahkan, sejumlah poin penting kemungkinan akan disepakati, meskipun tidak dalam putaran awal perundingan, melainkan pada tahap berikutnya.
Terkait Selat Hormuz, Kharazmi menegaskan bahwa jalur strategis tersebut tetap menjadi salah satu sumber pengaruh utama Iran. Ia menyebut pemimpin tertinggi Iran telah menegaskan kembali bahwa selat tersebut tidak akan diserahkan dengan mudah. Bahkan, Iran memandangnya sebagai instrumen untuk memastikan biaya konflik dapat dipulihkan.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan bahwa pembicaraan di Pakistan membuka peluang untuk meredakan ketegangan dan mencegah eskalasi konflik kembali terjadi. Hal ini disampaikan melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric.
Dujarric juga menyebutkan bahwa utusan pribadi PBB, Jean Arnault, yang saat ini berada di Teheran, akan tetap berada di kawasan tersebut guna mendukung upaya diplomatik. Ketika ditanya mengenai kemungkinan kehadiran Arnault di Islamabad, Dujarric menegaskan bahwa tidak ada rencana khusus untuk itu, namun PBB akan terus memantau perkembangan pembicaraan.