Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / AS Ancam Iran Usai Perundingan Nuklir Buntu, Rusia Turun Tangan Lewat Latihan Militer

AS Ancam Iran Usai Perundingan Nuklir Buntu, Rusia Turun Tangan Lewat Latihan Militer

Kamis, 19 Februari 2026 11:00 WIB

Font: Ukuran: - +

80 jet tempur AS siap gempur Iran, Rusia akan pasang badan. Foto: X


DIALEKSIS.COM | Teheran - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah putaran kedua pembicaraan nuklir di Jenewa berakhir tanpa terobosan signifikan. Washington mengeluarkan ancaman baru, sementara Teheran menggandeng Rusia menggelar latihan angkatan laut bersama di Laut Oman sebagai respons atas meningkatnya tekanan militer di kawasan.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada Rabu (18/2) menegaskan bahwa Iran akan “sangat bijaksana untuk membuat kesepakatan” dengan Presiden AS Donald Trump. Pernyataan itu disampaikan setelah perundingan tidak langsung antara Washington dan Teheran di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan konkret.

Leavitt mengakui ada sejumlah kemajuan dalam pertemuan yang berlangsung Selasa lalu, namun kedua pihak masih berselisih tajam dalam sejumlah isu krusial. Di saat yang sama, Trump meningkatkan tekanan melalui pernyataan publiknya. Ia menyebut jika Iran menolak membuat kesepakatan, AS dapat menggunakan pangkalan udara di Kepulauan Chagos, Samudra Hindia, untuk “memberantas potensi serangan oleh rezim yang sangat tidak stabil dan berbahaya”.

Ketegangan ini terjadi di tengah peningkatan signifikan kehadiran militer AS di kawasan Teluk. Washington telah mengerahkan dua kapal induk, termasuk USS Abraham Lincoln, beserta hampir 80 pesawat tempur yang dilaporkan berada sekitar 700 kilometer dari pantai Iran. Ribuan personel militer tambahan juga ditempatkan di wilayah tersebut.

Upaya diplomasi sebelumnya juga gagal setelah konflik bersenjata pecah tahun lalu. Serangan Israel terhadap Iran memicu perang selama 12 hari, yang kemudian diikuti Washington dengan pemboman tiga fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Pada Januari lalu, Trump kembali mengancam aksi militer menyusul penindakan keras pemerintah Iran terhadap demonstran anti-pemerintah.

Teheran membalas dengan ancaman menutup Selat Hormuz”jalur vital ekspor minyak global”serta memperingatkan kemungkinan serangan terhadap pangkalan militer AS di kawasan. Eskalasi retorika ini mendorong negara-negara Teluk seperti Oman, Qatar, dan Arab Saudi meningkatkan upaya diplomatik guna mencegah konflik regional terbuka.

Dalam perundingan terbaru, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut kedua pihak telah menyepakati “prinsip-prinsip panduan” menuju potensi kesepakatan. Namun Wakil Presiden AS JD Vance menilai Teheran belum mengakui seluruh garis merah Washington.

AS menuntut penghentian total pengayaan uranium di wilayah Iran serta memperluas agenda negosiasi mencakup program rudal balistik Teheran. Iran bersikeras program nuklirnya semata untuk tujuan damai dan hanya bersedia membahas pembatasan tertentu jika sanksi ekonomi dicabut. Teheran juga menolak konsep “zero enrichment” dan menutup pintu pembahasan soal kemampuan rudalnya.

Di tengah tekanan itu, Iran memperlihatkan kesiapan militernya. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menggelar latihan perang di Selat Hormuz awal pekan ini guna mengantisipasi “potensi ancaman keamanan dan militer”.

Tak hanya itu, Teheran dan Moskow mengumumkan latihan angkatan laut gabungan di Laut Oman. Laksamana Muda Hassan Maqsoudlou menyebut latihan tersebut bertujuan mengirim pesan perdamaian sekaligus mencegah tindakan sepihak di kawasan, serta meningkatkan koordinasi menghadapi ancaman terhadap keamanan maritim dan kapal komersial.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov memperingatkan bahwa setiap serangan baru AS terhadap Iran akan membawa konsekuensi serius. Dalam wawancara dengan televisi Al-Arabiya, ia menilai risiko insiden nuklir nyata mengingat serangan sebelumnya menyasar fasilitas yang berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

“Tidak ada yang menginginkan peningkatan ketegangan. Semua orang memahami bahwa ini sama saja bermain api,” ujar Lavrov, seraya menambahkan bahwa eskalasi dapat merusak hubungan Iran dengan negara-negara tetangganya, termasuk Arab Saudi.

Pengamat Timur Tengah dari Stimson Center, Barbara Slavin, menilai peluang tercapainya kesepakatan masih tipis. Ia bahkan memperkirakan kemungkinan serangan lanjutan oleh AS dan Israel dalam waktu dekat.

“Pertanyaannya, apa tujuannya? Apakah bisa dibendung? Apakah pihak lain akan terlibat? Kita belum memiliki jawabannya,” ujarnya. Menurut Slavin, pembicaraan yang berlangsung singkat dan minim pendalaman substansi memperlihatkan jarak yang masih lebar antara kedua pihak.

Dengan pengerahan militer besar-besaran dan latihan gabungan Rusia-Iran, kawasan Timur Tengah kini berada di ambang ketidakpastian baru. Diplomasi masih berjalan, tetapi bayang-bayang konflik terbuka semakin nyata.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI