Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Liputan Khusus / Diaspora / Belajar Agama Tanpa Menghakimi, Kelas “Sunyi Debat” di NUS

Belajar Agama Tanpa Menghakimi, Kelas “Sunyi Debat” di NUS

Sabtu, 09 Mei 2026 15:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Muhammad Mirza Ardi, mahasiswa PhD Kajian Asia Tenggara di National University of Singapore (NUS). [Foto: Dokpri/dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Singapura - Di sebuah ruang kelas di National University of Singapore (NUS), perbincangan tentang agama berjalan tanpa nada menghakimi. Tidak ada perdebatan tentang siapa yang paling benar. Yang ada justru upaya memahami bagaimana agama hidup, bergerak, dan membentuk relasi sosial manusia.

Muhammad Mirza Ardi bercerita kepada Dialeksis, Sabtu (9/5/2026), mahasiswa PhD Kajian Asia Tenggara di NUS, mengampu tutorial mata kuliah Agama-Agama Dunia dengan pendekatan yang tak lazim. Sejak pertemuan pertama, ia menegaskan batas yang jelas: kelas ini bukan ruang untuk menguji kebenaran teologis.

“Kita tidak membahas mana agama yang benar atau salah. Kita melihat agama sebagai realitas sosial,” ujarnya, mengulang pengantar yang selalu ia sampaikan kepada mahasiswa.

Bagi Mirza, agama tak pernah benar-benar jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia hadir dalam pilihan makanan, simbol-simbol ruang publik, hingga dalam dinamika konflik dan perdamaian. Karena itu, memahami agama berarti membaca dunia sosial itu sendiri.

Di kelasnya, mahasiswa datang dari latar yang beragam agama-agama Abrahamik, Hindu, Buddha, hingga tradisi Konfusianisme dan Tao. Sebagian lainnya memilih menyebut diri sebagai free thinker. Namun, keragaman itu tidak menjelma menjadi gesekan.

“Tidak ada yang merendahkan keyakinan lain. Justru di sini, dialog berjalan lebih terbuka dan saling menghormati,” kata Mirza.

Diskusi yang berlangsung pun melampaui ritual dan doktrin. Mahasiswa diajak menelusuri bagaimana agama berkelindan dengan isu-isu kontemporer: ketimpangan ekonomi, lingkungan, gender, hingga relasinya dengan sains. Agama, dalam konteks ini, diposisikan sebagai salah satu faktor yang membentuk cara manusia memandang dan menjalani hidup.

Pendekatan pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas. Mirza mewajibkan mahasiswanya menulis esai reflektif tentang agama yang berbeda dari keyakinan mereka. Seorang mahasiswa Yahudi, misalnya, harus meneliti Islam, Hindu, atau Buddha bukan agamanya sendiri.

Tugas itu tidak cukup diselesaikan lewat literatur. Mahasiswa harus turun ke lapangan: mewawancarai pemeluk agama, mengunjungi rumah ibadah, serta mendokumentasikan pengalaman mereka melalui rekaman audio dan vlog singkat.

Metode ini, menurut Mirza, penting untuk mendorong pengalaman langsung. Ia ingin mahasiswa tidak hanya memahami agama sebagai teks, tetapi sebagai pengalaman manusia yang konkret dengan segala kompleksitasnya.

Dalam proses penulisan, mahasiswa diminta menggali rasa ingin tahu paling mendasar. Pertanyaan-pertanyaan sederhana justru menjadi pintu masuk: mengapa Hindu mengenal banyak dewa, apa makna jihad dalam Islam, atau mengapa Buddha tidak menempatkan Tuhan sebagai sosok personal.

Dari sana, mereka diajak merefleksikan perubahan cara pandang bagaimana prasangka awal diuji, bahkan runtuh, oleh pengalaman dan pengetahuan baru. Esai yang dihasilkan bukan sekadar tugas akademik, melainkan catatan perjalanan intelektual sekaligus personal.

Menariknya, proses belajar itu juga berbalik arah. Mirza mengaku justru banyak belajar dari tulisan mahasiswanya. Perspektif baru kerap muncul dari hal-hal yang sebelumnya luput dari perhatiannya.

“Ketika membaca esai mereka, saya juga belajar tentang agama lain,” ujarnya.

Ia bahkan tak ragu memberikan nilai tertinggi bagi mahasiswa yang mampu menghadirkan sudut pandang segar sesuatu yang, menurutnya, lebih berharga dari sekadar ketepatan teori.

“Pada dasarnya, saya bukan hanya pengajar, tapi juga pembelajar,” kata Mirza.

Di tengah dunia yang kerap diwarnai polarisasi identitas dan kecurigaan antaragama, model pembelajaran seperti ini menawarkan kemungkinan lain. Ruang kelas menjadi tempat untuk mendengar, memahami, dan merawat perbedaan.

Pendekatan Mirza menunjukkan bahwa studi agama tidak harus berakhir pada perdebatan dogma. Ketika agama dibaca sebagai realitas sosial, ia membuka jalan untuk melihatnya sebagai sumber makna, identitas, sekaligus jembatan dialog.

Pada akhirnya, pengalaman mengajar di NUS itu menggarisbawahi satu hal sederhana: memahami agama bukan tentang mencari siapa yang paling benar, melainkan belajar menjadi manusia yang lebih terbuka. Di titik itu, batas antara guru dan murid menjadi kabur keduanya sama-sama sedang belajar. [arn]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI