DIALEKSIS.COM | Takengon - Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Tengah, Soekardi Bensu, menanggapi kondisi memprihatinkan proses belajar mengajar di wilayah terpencil Kemukiman Wih Dusun Jamat, Kecamatan Linge, yang hingga kini masih berlangsung tanpa fasilitas memadai pascabencana hidrometeorologi.
Soekardi mengatakan, pihaknya telah menerima laporan langsung dari kepala sekolah terkait kerusakan fasilitas pendidikan, termasuk di SMP Negeri 26 Aceh Tengah. Bahkan, usulan pembangunan ruang kelas darurat telah diajukan dan dikoordinasikan dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
“Kemarin saya dihubungi oleh kepala sekolah. Kondisi memang rusak lagi. Usulan pembangunan kelas darurat sudah kita sampaikan dan sudah dikonfirmasi ke BPBD,” kata Soekardi saat dihubungi media dialeksis.com, Sabtu (25/4/2026).
Ia menjelaskan, secara umum kondisi bangunan sekolah tidak mengalami kerusakan berat dan masih bisa dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar. Namun, persoalan utama saat ini adalah akses menuju sekolah yang kembali terputus akibat banjir.
“Di sekolahnya tidak terlalu parah, masih bisa dipakai. Tapi jalan akses yang diterjang banjir itu yang jadi kendala utama,” ujarnya.
Menurut Soekardi, dalam situasi darurat seperti ini, pihak sekolah diharapkan dapat menyiasati sementara proses belajar mengajar dengan memanfaatkan fasilitas yang masih tersedia.
“Untuk sementara bisa disiasati dulu oleh kepala sekolah untuk kegiatan belajar. Yang penting anak-anak tetap bisa belajar,” katanya.
Ia juga mengaku telah beberapa kali turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi di lapangan. “Saya sudah tiga kali ke sana, jadi tau kondisi di sana gimana” tambahnya.
Sebelumnya, diberitakan bahwa sudah enam bulan sejak bencana hidrometeorologi melanda wilayah tersebut, namun fasilitas pendidikan darurat bagi siswa dari tingkat TK hingga SMA belum juga tersedia.
Dalam sepekan terakhir, kondisi semakin memburuk setelah hujan dengan intensitas tinggi kembali mengguyur kawasan tersebut. Jembatan darurat yang menjadi akses utama dilaporkan putus total, sementara tenda darurat yang digunakan sebagai ruang belajar ikut roboh.
Warga setempat, Sertalia, menyebutkan bahwa tenda darurat milik SMP Negeri 26 Takengon yang sebelumnya digunakan siswa kini tidak lagi dapat difungsikan.
“Walaupun sudah berkali-kali diperbaiki, sekarang para siswa harus kembali belajar di ruang terbuka karena tenda yang sebelumnya digunakan sudah tidak bisa dipakai lagi,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Kepala Sekolah, Ruslan. Ia mengatakan, sejak 20 April lalu, kegiatan belajar mengajar terpaksa dipindahkan ke halaman Postu dan kantor desa Jamat karena keterbatasan fasilitas.
“Sudah lima hari ini kami belajar di halaman Postu dan kantor desa. Hanya itu yang bisa dimanfaatkan,” kata Ruslan.
Ia juga mengungkapkan bahwa akses menuju salah satu titik belajar di Desa Reje Payung masih terputus akibat jembatan yang rusak, sehingga aktivitas belajar terpaksa dipusatkan di Desa Jamat.
Pihak sekolah, lanjutnya, telah mengusulkan pembangunan ruang kelas darurat kepada dinas terkait. Namun hingga kini belum ada kepastian realisasi, salah satunya karena keterbatasan akses transportasi menuju lokasi. [nh]