DIALEKSIS.COM| Takengon- Pihak provinsi Aceh yang bertanggungjawab terhadap sejumlah ruas jalan di Aceh Tengah, membiarkan ruas jalan yang menjadi tugasnya sampai saat ini tidak diperbaiki.
Jangankan serius memperbaiki, pihak provinsi tidak menurunkan alat berat untuk membuka akses, sehingga daerah kewalahan menghadapi bencana. Dampaknya perkampungan di Aceh Tengah yang menjadi tanggungjawab provinsi, sampai saat ini terisolasi.
Ruas jalan lingkaran Danau Lut Tawar, Bintang hingga ke simpil, Simpang Kraf merupakan ruas jalan provinsi. Namun sampai hari ke 38 musibah, pihak provinsi tidak memperbaikinya, alat berat juga belum pernah diturunkan.
Selama ini ruas jalan itu dibuka oleh kekuatan daerah. Pihak BPBD Aceh Tengah harus bolak-balik membuka kawasan yang terisolasi, walau sesuai ketentuan itu bukan tanggungjawabnya, namun karena kebutuhan masyarakat, mereka turun tangan.
“Benar ruas jalan provinsi di Aceh Tengah seharusnya aksesnya dibuka oleh pihak provinsi. Namun karena masyarakat Aceh Tengah terisolir, kami berupaya membukanya. Sementara alat di daerah tidak memadai,” sebut Andalika, Kalaks BPBD Aceh Tengah menjawab Dialeksis.com, Jumat (2/1/2026) via selular.
“Semoga pihak provinsi yang mengurus persoalan jalan, turun tangan menghadirkan alat berat. Kalau operator dan kebutuhan minyak, kami siap membantu demi terbebasnya masyarakat dari keterisoliran,” sebut Andalika.
Untuk Kecamatan Bintang, masih ada tiga kampung yang terisolir. Jamur Konyel, Atu Payung dan Serule, dimana ruas jalan ini mulai dari Mendale, merupakan tanggungjawab provinsi.
Namun, pihak provinsi mengabaikan tugasnya membantu masyarakat yang tertimpa musibah untuk membuka jalan.
Feriyanto, ketua KNPI Aceh Tengah sebelumnya meminta tanggungjawab Wakil Gubernur Aceh, Dek Fad yang menjanjikan akan segera membuka akses jalan di wilayah tengah.
Namun kenyataanya pihak provinsi mengabaikanya. Alat berat saja tidak diturunkan, pihak provinsi membiarkan rakyat Aceh Tengah berjuang sendiri, dan persoalan ini harus ditangani daerah.
Sementara ruas jalan Takengon, Isaq ke Ise-ise, merupakan ruas jalan nasional. Dimana alat berat senantiasa stand by di sana, sehingga bukan hanya membuka akses jalan, mereka dapat membersihkan kembali bila ada longsoran susulan.
Berbeda dengan ruas jalan lingkar Danau Lut Tawar, walau tanggungjawab provinsi, namun sudah dibuka daerah. Namun ketika kembali longsor, daerah kewalahan, karena alat beratnya dikerahkan untuk membuka daerah lain yang masih terisolasi. Demikian dengan ruas jalan lainya yang menjadi tanggungjawab provinsi.
“Mengapa pemerintah Aceh membiarkan Aceh Tengah berjuang sendiri dalam membuka isolasi. Padahal itu tanggung jawab provinsi. Sudah lebih sebulan, pihak provinsi abai dengan musibah di wilayah tengah,”sebut Sertalia, salah seorang korban amukan alam ini.
Mereka sangat berharap agar pihak provinsi jalan lari dari tanggungjawab dalam membebaskan isolasi di Aceh Tengah yang mana ruas jalan itu merupakan tanggungjawabnya.