Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Kolom / Musibah Antara Pahlawan dan Pengkhianat

Musibah Antara Pahlawan dan Pengkhianat

Kamis, 01 Januari 2026 18:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Bahtiar Gayo

Musibah telah mencatat sejarah. Ada pahlawan yang terlahir dari tuntutan keadaan. Ada pengkhianat yang memanfaatkan kesempatan. Ada manusia munafik, seolah berbuat dan ingin ditabalkan sebagai pahlawan.

Saat musibah yang melanda Aceh, Sumut dan Sumbar bermunculan pahlawan yang ikhlas, melakukan apa yang bisa mereka kerjakan. Menolong sesama, walau ada diantara mereka juga yang didera musibah.

Penyintas bermunculan, saling berbagi. Ada diantara mereka yang dipaksa berjalan puluhan bahkan ratusan kilometer untuk menyelamatkan keluarga, demi bertahan hidup.

Relawan datang dari berbagai penjuru membalut luka mereka yang disapu prahara. Para pejabat yang berhati nurani dan memiliki panggilan jiwa, turun untuk meringankan penderitaan. Keiklasan itu tergambar bukan hanya tekad, namun sikap mereka ketika memberikan pertolongan.

Namun, disaat musibah ini, sayangnya masih ada sebagian manusia yang tega mempermainkannya. Memanfaatkan kesempatan untuk memperkaya diri.

Saat para korban sangat membutuhkan, hidup dalam kecemasan dan panik, ada bantuan yang dikirim oleh para donasi tidak semuanya utuh diterima para korban. Suara tentang bantuan hilang, atau tidak tepat sasaran kerap terdengar.

Ada manusia yang bermain diantara bayang-bayang maut para korban yang sedang berbalut duka. Ada hantu yang berwujud manusia. Ada pengkhianat yang memanfaatkan keadaan. Manusia zalim.

Dimana hati nurani mereka? Apakah masih layak disebutkan sebagai manusia. Saat para korban berjuang untuk bertahan hidup, agar tidak bertambah jumlah korban musibah ini, dilain sisi ada manusia yang memperkaya diri, menari di atas luka yang menganga.

Ada juga para pejabat yang berhati nurani, turun ke lapangan saat para korban sedang sangat membutuhkan. Keiklasan itu tergambar bukan hanya tekad, namun sikap mereka ketika memberikan pertolongan.

Namun ada juga pejabat bagaikan bunglon. Tiarap saat awal bencana, hanya memikirkan dirinya dan keluarga, namun ketika situasi sudah sedikit membaik, dia muncul seolah-olah dia sudah banyak berbuat.

Ada pejabat yang mengandalkan konten. Namun ada juga pejabat yang tulus dan ikhlas, justru publik, para korban atau relawan yang menyiarkan kinerjanya.

Semuanya menjadi catatan dalam sebuah sejarah, ada pahlawan saat musibah, ada pengkhianat dan ada juga manusia munafiq yang tampil bagaikan pahlawan, ingin dipuji dan dikatakan sudah banyak berbuat.

Kalaupun tidak ada catatan resmi pada manusia, tentang siapa mereka, namun catatan Tuhan tidak mungkin akan terlupakan.

Tuhan maha adil dalam memberikan kasih sayang dan hukuman. Mereka yang tulus ikhlas membantu, akan diberikan Allah dengan Rahmat dan kebaikan. Sementara hantu berwujud manusia juga akan mendapatkan balasan yang setimpal.

Cepat atau lambat kasih sayang dan hukuman Tuhan itu akan diterima. Anda pilih yang mana, ingin menjadi hantu berwujud manusia, berkhianat atas amanah yang diberikan, menjadi manusia munafiq yang seolah-olah sudah berbuat.

Atau menjadi manusia yang tulus ikhlas, membantu sesama, walaupun ada diantara mereka yang penghidupan terbatas. Karena bantuan itu bukan hanya materi. Anda akan muncul menjadi pahlawan, walau tidak dicatat manusia, balasan Tuhan tidak pernah alpa.

Saudaraku yang tertimpa musibah, para korban amukan alam, kita senasib. Namun yang perlu diinggat di relung hati terdalam, Tuhan tidak akan menurunkan cobaan bila tidak memberi imbalan diakhirnya. Tuhan sudah menyiapkan imbalan atas musibah ini.

Imbalan itu berupa kemenangan, untuk itu kita harus kuat. Jangan terlalu berharap kepada bantuan manusia, karena mengharapkan manusia akan berbuah kecewa. Namun andalkanlah Tuhan yang maha segala-galanya.

Kita tidak boleh meraih imbalan Tuhan terlahir sebagai sebagai pecundang, namun raihlah sebagai pemenang. Jangan musibah ini menjadikan kita manusia yang kalah, tidak mampu bangkit. Namun raihlah kemenangan itu, kita harus kuat, yakinlah Allah akan memberikan hasil yang baik.

Jangan menyerah dengan keadaan. Tuhan memberikan cobaan karena kita mampu menghadapinya. Karena itu janji Allah, tidak menguji manusia diluar batas kemampuanya. Kita diuji Tuhan, karena Tuhan memilih kita, karena kita mampu menghadapinya.

Jadilah manusia yang meraih kemenangan, jangan menjadi manusia pengkhianat, manusia munafiq yang memanfaatkan keadaan. Karena semua perbuatan itu akan ada balasanya.


Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI