Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Psikolog Bagikan Tips Memilih Daycare yang Aman untuk Anak di Aceh

Psikolog Bagikan Tips Memilih Daycare yang Aman untuk Anak di Aceh

Sabtu, 02 Mei 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Psikolog Aceh sekaligus Akademisi dari Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Iyulen Pebry Zuanny. [Foto: Dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Fenomena kasus kekerasan terhadap anak di tempat penitipan anak (daycare) kian mengkhawatirkan di Aceh. Hal ini dikarenakan adanya masalah sistem yang belum tertangani secara serius.

Psikolog Aceh, Iyulen Pebry Zuanny, menilai bahwa kondisi ini harus dibaca sebagai alarm bagi semua pihak, terutama orang tua dan pengelola layanan penitipan anak.

“Ini bukan hanya soal satu dua oknum. Dalam banyak kasus, kita melihat adanya kelemahan dalam sistem -- mulai dari kompetensi pengasuh, pengawasan yang longgar, hingga aturan yang tidak berjalan efektif,” ujar Iyulen kepada media dialeksis.com, Sabtu (2/5/2026).

Ia menjelaskan, dalam perspektif psikologi, anak usia dini berada pada fase krusial dalam membangun rasa aman dan kepercayaan terhadap lingkungan. Ketika pada fase ini anak justru mengalami kekerasan atau pengabaian, dampaknya tidak sederhana.

“Anak bisa mengalami kesulitan mengatur emosi, kehilangan rasa percaya pada orang lain, hingga terganggu perkembangan sosialnya dalam jangka panjang,” jelasnya.

Akademisi dari Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, mengingatkan orang tua agar tidak gegabah dalam memilih daycare. Keputusan menitipkan anak, menurutnya, harus melalui pertimbangan matang dan observasi langsung.

Ia menyarankan agar orang tua terlebih dahulu mengunjungi lokasi daycare sebelum memutuskan. Cara pengasuh berinteraksi dengan anak menjadi indikator penting yang tidak boleh diabaikan.

Selain itu, orang tua juga perlu menanyakan secara rinci terkait aturan keamanan serta prosedur darurat yang dimiliki lembaga tersebut.

“Bangun komunikasi dengan anak, meskipun sederhana. Dan yang tidak kalah penting, percaya pada intuisi sebagai orang tua. Jika ada yang terasa tidak beres, jangan diabaikan,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menekankan sejumlah aspek mendasar yang harus dipastikan sebelum memilih daycare. Mulai dari legalitas atau izin resmi, kualifikasi pengasuh yang jelas, hingga rasio jumlah pengasuh dengan anak yang seimbang agar tidak terjadi kelelahan kerja yang berujung pada kelalaian.

Lingkungan daycare juga harus bersih, aman, serta memiliki program kegiatan yang mendukung tumbuh kembang anak. Transparansi informasi dari pihak pengelola menjadi poin penting lainnya.

“Yang paling utama, pilih daycare yang benar-benar membangun hubungan emosional dengan anak, bukan sekadar tempat menitipkan,” ujarnya.

Iyulen juga mengingatkan orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku anak sebagai bentuk deteksi dini kemungkinan adanya kekerasan.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain anak tiba-tiba menjadi sangat takut, sering menangis tanpa sebab jelas, menolak pergi ke daycare, hingga perubahan pola makan dan tidur. Dalam beberapa kasus, anak juga bisa menunjukkan seperti kembali mengompol.

Sementara pada anak yang belum mampu berbicara, tanda-tanda bisa terlihat dari respons tubuh dan perilaku. Misalnya tubuh yang menegang saat bertemu orang tertentu, tangisan terus-menerus, munculnya luka atau memar yang tidak wajar, hingga perubahan drastis seperti menjadi sangat pendiam atau justru terlalu bergantung.

“Setiap anak bisa menunjukkan tanda yang berbeda. Karena itu, jika ada kecurigaan, segera lakukan pemeriksaan lebih lanjut ke psikolog agar tidak berdampak lebih serius,” katanya.

Di sisi lain, Iyulen menegaskan bahwa tanggung jawab utama tetap berada pada pihak daycare sebagai penyedia layanan. Daycare, menurutnya, bukan sekadar tempat penitipan, melainkan ruang tumbuh bagi anak.

Karena itu, lembaga harus memiliki standar perlindungan anak yang jelas, mulai dari jumlah pengasuh yang memadai, pelatihan rutin, hingga sistem pelaporan yang transparan jika terjadi masalah.

Tak kalah penting adalah proses rekrutmen pengasuh yang ketat. Ia menyarankan adanya tes psikologi untuk mengukur empati dan kesabaran, wawancara mendalam, pengecekan latar belakang, hingga simulasi langsung dalam mengasuh anak.

“Pengawasan juga harus berlapis. Bisa melalui CCTV yang aktif, inspeksi mendadak, evaluasi rutin, hingga mekanisme saling mengawasi antar pengasuh,” tutupnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI