DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Inisiator Meugoe Project, Reza Gunawan mengatakan upaya pemulihan pascabencana di Aceh mulai diarahkan pada langkah yang lebih berkelanjutan.
Dalam hal ini, warga didorong untuk tidak lagi hanya bergantung pada bantuan darurat, tetapi fokus membangun kemandirian pangan sebagai fondasi bertahan menghadapi bencana berikutnya.
Ia menilai pola penanganan bencana yang selama ini terlalu bertumpu pada distribusi sembako justru membuat masyarakat sulit bangkit secara mandiri.
“Selama kita hanya sibuk membagi mi instan, kita sedang menunda krisis berikutnya,” ujar Reza kepada media dialeksis.com Jumat (6/2/2026).
Berdasarkan pengalamannya di Desa Dayah Leubue, Pidie Jaya yang dilakukan pemulihan ekonomi petani di desa tersebut. Krisis pangan pascabencana di Aceh bukan semata akibat cuaca ekstrem, tetapi karena desa belum memiliki sistem pangan yang tangguh.
Reza mendorong pemerintah dan lembaga kemanusiaan mengalihkan perhatian dari bantuan logistik jangka pendek menuju pembangunan infrastruktur pertanian skala mikro di desa.
“Desa harus punya benteng pangan. Bukan hanya dapur umum, tapi sumur dalam yang tahan kemarau, jaringan irigasi kecil, dan bank benih di tiap kecamatan,” tegasnya.
Ia menjelaskan, tanpa cadangan benih dan sumber air yang stabil, petani selalu kembali ke titik awal setiap kali banjir atau kekeringan terjadi. Akibatnya, ketergantungan pada bantuan terus berulang.
Selain itu, ia menekankan pentingnya perlindungan lahan pertanian produktif agar tidak terus tergerus alih fungsi lahan. Menurutnya, kebijakan tata ruang harus menjadi bagian dari strategi ketahanan pangan daerah.
Dalam pendekatan Meugoe Project, pangan dipandang sebagai bagian penting dari mitigasi bencana. Ketika akses bantuan terhambat, ketersediaan pangan lokal menjadi penopang utama kehidupan warga.
“Kalau jalan terputus dan distribusi bantuan terhenti, kebun dan sawah adalah dapur terdekat. Kalau warga punya produksi sendiri, mereka tidak panik,” kata Reza.
Program pendampingan dilakukan melalui pelatihan pembuatan pupuk organik, penggunaan teknologi tanam sederhana, serta penguatan kelompok tani desa. Pendekatan ini bertujuan agar masyarakat memiliki keterampilan dan sarana untuk memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri.
Ia memusatkan perhatian pada adaptasi terhadap cuaca ekstrem. Penggunaan paranet untuk melindungi tanaman dari paparan panas berlebih serta optimalisasi sumber air dalam menjadi prioritas agar produksi tetap berjalan saat kemarau panjang.
“Kita sedang berpacu dengan perubahan iklim. Kalau adaptasi tidak dipercepat, krisis pangan bisa menjadi keadaan yang terus berulang,” ujarnya.
Ia mengatakan keberhasilan pemulihan pascabencana tidak diukur dari banyaknya bantuan yang disalurkan, melainkan dari semakin sedikitnya warga yang harus bergantung pada bantuan saat bencana berikutnya datang.
“Bantuan terbaik bukan yang membuat warga bertahan sehari, tapi yang membuat mereka bisa berdiri kembali. Kemandirian pangan itu soal martabat,” pungkas Reza. [nh]