DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Dalam upaya pemulihan pasca banjir yang sempat merendam Desa Dayah Leubue, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, warga memilih bangkit dengan caranya sendiri.
Bukan dengan menunggu bantuan, melainkan mengolah kembali tanah yang mereka miliki melalui Program Meugoe, sebuah inisiatif bertani bersama yang menitikberatkan pada kemandirian pangan warga.
Koordinator dan Inisiator Meugoe, Reza Gunawan, mengatakan Program Meugoe lahir dari kesadaran bahwa bantuan darurat bersifat sementara, sementara kemandirian adalah solusi jangka panjang bagi masyarakat terdampak bencana.
“Di Ulim, kami tidak sekadar memberi bantuan. Kami ingin membangun jalan kemandirian. Warga sudah menyiapkan bedengan, menyemai bibit, dan bekerja bersama. Ini bukan tentang menerima, tapi tentang berdaya,” ujar Reza kepada media dialeksis.com, Jumat, (23/1/2026).
Ia menggambarkan suasana di Dayah Leubue sebagai pemandangan yang menyentuh. Alih-alih antre sembako, warga justru terlihat membungkuk di lahan, menanam benih harapan di atas tanah mereka sendiri.
Namun demikian, Reza mengakui tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan infrastruktur air. Tanpa mesin pompa, warga harus menyiram lahan secara manual dengan memikul air, yang tentu tidak efektif untuk kebun dengan luasan yang cukup besar.
“Ketersediaan air menjadi kunci. Tanpa pompa dan selang, kebun gizi ini sangat rentan gagal panen. Itu sebabnya kami fokus memastikan alat siram tersedia agar usaha warga tidak terhenti di tengah jalan,” jelasnya.
Menurut Reza, Program Meugoe dirancang sebagai program berkelanjutan, bukan kegiatan sesaat. Tim Terminal Urban Farming masih terus berada di lapangan untuk memastikan dukungan teknis dan logistik benar-benar sampai kepada warga yang membutuhkan.
Sebagai bagian dari penguatan program, pihaknya juga menginisiasi Program Lemon Kebaikan, yakni penjualan lemon seharga Rp15.000 per kilogram, di mana 100 persen keuntungan dialokasikan untuk pengadaan mesin pompa air bagi kebun warga.
“Kami mengajak masyarakat luas untuk tidak hanya berdonasi, tetapi berinvestasi pada masa depan pangan desa. Bantuan paling mulia adalah bantuan yang membuat penerimanya tidak lagi bergantung pada bantuan,” tegas Reza.
Program Meugoe diharapkan tidak hanya membantu pemulihan pasca bencana, tetapi juga menjadi model pemberdayaan masyarakat berbasis pertanian yang dapat direplikasi di wilayah lain.
“Meugoe kembali, Ulim pulih. Dari kebun kecil inilah harapan besar itu tumbuh,” pungkasnya.