Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Cara Petani Aceh Bangkit Pascabencana: Pandangan Dr T Saiful Bahri

Cara Petani Aceh Bangkit Pascabencana: Pandangan Dr T Saiful Bahri

Rabu, 07 Januari 2026 12:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Dr. T. Saiful Bahri, S.P., M.P., dosen Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, menyampaikan pandangannya mengenai pemulihan sektor pertanian Aceh. [Foto: dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Aceh - Banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Aceh meninggalkan dampak serius pada sektor pertanian. Lahan rusak, infrastruktur tani terganggu, dan banyak petani kehilangan sumber penghidupan dalam waktu singkat. 

Namun di balik situasi itu, peluang untuk bangkit dengan cara yang lebih terencana terbuka lebar. Hal itu disampaikan Dr. T. Saiful Bahri, S.P., M.P., dosen Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, dalam komentarnya mengenai pemulihan sektor pertanian Aceh.

Menurut Saiful, pemulihan pertanian pascabencana tidak boleh dipahami sekadar sebagai proses kembali ke kondisi semula.

“Yang kita butuhkan bukan hanya ‘recovery’, tetapi ‘build back better’. Petani Aceh harus bangkit dengan sistem yang lebih tangguh terhadap bencana,” katanya saat menyampaikan kepada Dialeksis, Rabu (7/1/2026).

Ia menilai petani bukan objek bantuan, melainkan subjek utama yang memiliki pengalaman lapangan dan pengetahuan lokal yang harus ditempatkan di posisi sentral.

Saiful merinci tiga tahap kebangkitan pertanian: langkah darurat, rehabilitasi, dan penguatan jangka panjang.

Pada tahap darurat, fokus utama adalah menjaga keberlangsungan hidup dan produksi dasar. Ia menekankan pentingnya survei cepat kerusakan lahan, penyediaan benih dan sarana produksi darurat, serta pemulihan akses pasar sederhana agar petani tidak terputus dari sumber pendapatan.

“Kita harus pastikan petani tidak jatuh ke jurang kemiskinan baru akibat jeda produksi,” ujar Saiful.

Tahap berikutnya adalah rehabilitasi. Di sini, perbaikan struktur tanah, konservasi lereng, dan pemulihan irigasi menjadi kunci. Ia mendorong penggunaan varietas tanaman yang lebih toleran terhadap banjir dan genangan, rotasi tanaman, serta perbaikan jalan usaha tani.

“Kita bicara tindakan teknis yang konkret, bukan jargon. Jika tanah rusak, pulihkan dulu fondasinya. Produktivitas akan mengikuti,” katanya.

Untuk jangka panjang, Saiful menekankan pentingnya resiliensi. Ia menyarankan pengembangan agroforestri pada daerah rawan longsor, asuransi pertanian berbasis indeks iklim, akses pembiayaan mikro, dan penguatan koperasi tani.

“Petani harus punya pegangan ketika bencana datang kembali. Tanpa instrumen keuangan yang melindungi mereka, setiap bencana akan mengulang cerita yang sama,” ujarnya.

Ia juga menyoroti dimensi sosial yang kerap luput. Menurutnya, pemulihan tidak hanya soal lahan dan teknologi, tetapi juga kesehatan psikologis petani dan keluarga mereka. Pendampingan, forum warga, dan pelibatan kelompok perempuan dan pemuda dinilai penting agar proses bangkit benar-benar inklusif.

Saiful menyampaikan beberapa rekomendasi kebijakan singkat. Pemerintah daerah diminta membentuk tim pemulihan pertanian terpadu bersama perguruan tinggi dan penyuluh, mempercepat pendataan kerusakan lahan, serta menyalurkan bantuan yang mendorong konservasi, bukan sekadar konsumtif.

“Kecepatan itu penting, tetapi ketepatan jauh lebih penting,” ujarnya.

Ia menutup komentarnya dengan nada optimistis. “Petani Aceh terbukti tangguh. Yang mereka butuhkan adalah arah, dukungan ilmiah, dan kebijakan yang memihak. Jika ketiga hal itu bertemu, kebangkitan pertanian bukan hanya mungkin, tetapi niscaya.” [arn]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI