Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Banjir Bandang Rusak Puluhan Sekolah di Aceh, PGRI Minta Pemenuhan Fasilitas Dasar

Banjir Bandang Rusak Puluhan Sekolah di Aceh, PGRI Minta Pemenuhan Fasilitas Dasar

Kamis, 08 Januari 2026 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Banjir Bandang Rusak Puluhan Sekolah di Aceh, PGRI Minta Pemenuhan Fasilitas Dasar. [Foto: dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Aceh Tamiang - Sekolah-sekolah di wilayah terdampak banjir bandang dan bencana hidrometeorologi di Aceh masih menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana pembelajaran. Selain kerusakan ruang kelas, kebutuhan mendesak saat ini meliputi mobiler sekolah, seragam siswa, serta kit belajar berupa buku tulis, tas, dan alat tulis.

Sejumlah kepala sekolah menyebutkan, proses belajar mengajar memang telah kembali berjalan dengan skema khusus dan fleksibel. Namun, kegiatan tersebut belum sepenuhnya ditunjang fasilitas yang memadai. Banyak meja dan kursi rusak atau hanyut saat banjir, sementara sebagian siswa kehilangan perlengkapan sekolah akibat rumah mereka terendam.

“Anak-anak tetap datang ke sekolah, tetapi masih banyak yang harus duduk di lantai atau berbagi meja. Seragam dan buku mereka juga hilang terbawa banjir,” ujar Kepala SMP Negeri 1 Kejuruan Muda, Drs Bona Fadly, di Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, Kamis (8/1/2026).

Di Aceh Tamiang, berdasarkan data relawan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terlibat dalam pembersihan pascabencana, sedikitnya 35 sekolah dari jenjang TK hingga SMA terdampak banjir. Kerusakan bangunan umumnya berada pada kategori sedang hingga berat, sementara kerusakan mobiler rata-rata tergolong berat dan tidak lagi dapat digunakan.

Kondisi tersebut membuat proses pembelajaran berjalan kurang optimal, terutama bagi siswa sekolah dasar dan menengah pertama yang sangat bergantung pada fasilitas belajar dasar. Para guru berupaya menyesuaikan metode pengajaran, namun keterbatasan sarana fisik tetap menjadi tantangan utama di lapangan.

Sebelumnya, Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan telah menginstruksikan satuan pendidikan di daerah terdampak untuk menerapkan kebijakan fleksibilitas belajar sambil menunggu pemulihan sarana dan prasarana sekolah. Pemerintah daerah juga membuka ruang kolaborasi dengan dunia usaha, lembaga sosial, dan masyarakat untuk membantu pemenuhan kebutuhan pendidikan pascabencana.

Ketua PGRI Provinsi Aceh, Almunzir, menilai pemulihan sektor pendidikan pascabencana tidak bisa dipandang sebagai persoalan teknis semata. Menurutnya, membersihkan lumpur dan memperbaiki bangunan sekolah hanyalah langkah awal yang harus segera diikuti dengan pemenuhan kebutuhan belajar siswa.

“Pemenuhan mobiler, seragam, dan kit belajar merupakan kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda. Anak-anak tidak cukup hanya hadir di sekolah, tetapi harus belajar dalam kondisi yang layak, aman, dan bermartabat. Meja, kursi, seragam, buku tulis, hingga alat tulis sangat menentukan kenyamanan belajar sekaligus kepercayaan diri siswa,” ujar Almunzir kepada Dialeksis saat dikonfirmasi, Kamis (8/1/2026).

Ia menambahkan, ketiadaan fasilitas dasar berpotensi mengganggu konsentrasi belajar dan berdampak pada kondisi psikologis peserta didik, terutama anak-anak yang telah mengalami trauma akibat bencana.

“Bayangkan anak-anak yang rumahnya terendam, perlengkapan sekolahnya hilang, lalu di sekolah pun harus duduk di lantai atau berbagi buku. Ini bukan hanya soal fasilitas, tetapi soal keberpihakan kita pada hak dasar anak untuk mendapatkan pendidikan yang manusiawi,” tegasnya.

Almunzir mendorong pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan agar pemulihan pendidikan ditempatkan sebagai prioritas utama dalam penanganan pascabencana.

“Kami berharap pemerintah, dunia usaha, lembaga sosial, dan masyarakat luas dapat bergerak bersama. Pendidikan tidak boleh menunggu terlalu lama, karena yang dipertaruhkan adalah masa depan generasi Aceh,” pungkasnya.

Perhatian dan dukungan berbagai pihak diharapkan dapat mempercepat pemulihan sektor pendidikan di wilayah terdampak bencana, sehingga hak belajar anak-anak tetap terpenuhi meski berada dalam situasi darurat. [arn]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI