Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Pemerintahan / Banjir Bandang dan Longsor di Aceh, Sejumlah Desa di Tujuh Kabupaten Dinyatakan Hilang

Banjir Bandang dan Longsor di Aceh, Sejumlah Desa di Tujuh Kabupaten Dinyatakan Hilang

Rabu, 07 Januari 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Juru Bicara Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh, Murthalamuddin. Foto: Humas Prov. Aceh


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh menyebabkan sejumlah desa dan dusun di tujuh kabupaten dinyatakan hilang. Permukiman warga terseret arus banjir dan material longsor, sehingga tidak lagi dapat dihuni.

Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh melaporkan wilayah terdampak tersebar di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Utara, Nagan Raya, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, dan Pidie Jaya.

“Berdasarkan data sementara dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong Aceh serta DPMK kabupaten, banyak pemukiman warga yang lenyap akibat banjir dan longsor. Kondisi ini membuat wilayah tersebut tidak lagi memungkinkan untuk ditempati,” kata Juru Bicara Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh, Murthalamuddin, kepada Dialeksis.com, Rabu (7/1/2026).

Di Kabupaten Aceh Tamiang, Kecamatan Sekerak, sejumlah desa seperti Lubuk Sidup, Sekumur, Tanjung Gelumpang, Sulum, dan Baling Karang dilaporkan hilang setelah diterjang banjir bandang dan longsor. Seluruh warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman atau ke rumah kerabat.

Sementara itu di Aceh Utara, bencana serupa terjadi di Kecamatan Sawang dan Langkahan. Satu dusun di Desa Guci serta wilayah Riseh Teungoh, Riseh Baroh, dan Dusun Rayeuk Pungkie dinyatakan tidak lagi tersisa.

Di Kabupaten Nagan Raya, Kecamatan Kuta Teungoh dan Babah Suak turut terdampak. Desa Beutong Ateuh Banggalang mengalami kerusakan parah hingga sebagian besar permukiman warga hilang.

Kondisi memprihatinkan juga terjadi di Aceh Tengah. Di Kecamatan Ketol dan Bintang, Desa Bintang Pupara dan Kalasegi kini hanya menyisakan beberapa unit rumah dalam kondisi rusak berat, sementara seluruh penduduk masih mengungsi.

Kabupaten Gayo Lues menjadi salah satu wilayah dengan dampak paling luas. Sejumlah desa dan dusun di Kecamatan Pantan Cuaca, Blangkejeren, Tripe Jaya, dan Putri Betung dilaporkan hilang akibat terjangan banjir bandang dan longsor.

Di Aceh Tenggara, tepatnya Kecamatan Ketambe, satu dusun dilaporkan lenyap. Hal serupa juga terjadi di Kabupaten Pidie Jaya, Kecamatan Meureudu, di mana satu dusun di Desa Blang Awe mengalami kerusakan total.

Murthalamuddin menjelaskan, dampak bencana ini tidak hanya merusak permukiman, tetapi juga melumpuhkan roda pemerintahan desa. Seluruh aparatur gampong di wilayah terdampak ikut mengungsi bersama masyarakat.

“Untuk sementara, aktivitas pemerintahan desa tidak dapat berjalan normal. Fokus utama saat ini adalah keselamatan warga dan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi,” ujarnya.

Ia menambahkan, Pemerintah Aceh bersama pemerintah kabupaten/kota terus melakukan pendataan lanjutan guna memastikan jumlah kerusakan dan kebutuhan masyarakat terdampak.

“Kami juga menyiapkan langkah jangka menengah dan panjang, termasuk relokasi warga serta rencana pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal,” pungkas Murthalamuddin.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI