Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Sosok Kita / Muslahuddin Daud, Pahlawan Tani Yang Penuh Dedikasi

Muslahuddin Daud, Pahlawan Tani Yang Penuh Dedikasi

Selasa, 05 Februari 2019 10:19 WIB

Muslahuddin Daud bersama trophy dan piagam penghargaan Pahlawan Indonesia Kategori Pertanian Tahun 2017

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh -Siapa yang tak kenal dengan pria ini. Dilahirkan di Meuredu, Kabupaten Pidie Jaya pada tanggal 4 Juli 1973, Muslahuddin Daud demikian nama lengkap nya, telah mendedikasikan separuh hidup nya pada dunia pertanian. Totalitas nya pada dunia pertanian benar-benar memberikan kontribusi yang nyata pada peningkatan kapasitas petani Aceh.

Muslahuddin Daud menempuh pendidikan dasar hingga SMU di Mereudu, kemudian melanjutkan pendidikan SI nya pada Fakultas Tarbiyah Jurusan Bahasa Inggris di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Selama di Banda Aceh, sembari kuliah, Muslahuddin melakukan berbagai macam pekerjaan yang dapat memberikan nya penghasilan. Dari jualan rokok yang digantung di leher, mendistribusikan telur dengan becak dayung, jualan kopi, hingga mengajar di beberapa madrasah pernah di lakoninya.

Menyelesaikan pendidikan SI nya pada 1996, Muslahuddin sempat meninggalkan Aceh untuk mencoba peruntungan di negeri orang. Batam tujuannya kala itu. Karena tidak mendapat pekerjaan yang layak, ditambah dengan terjadinya keributan antara orang Aceh dan Batak, Muslahuddin memilih kembali ke kampung halamannya.

Ketika konflik mulai memanas,jiwa kritisnya terpanggil. Kembali ke Banda Aceh pada medio 1999, dan sempat menjadi tukang tambal ban di depan Markas Brimob Jeulingke (sekarang Polda Aceh), Muslahuddin bergabung dengan beberapa organisasi gerakan dan LSM seperti YASINDO dan YAKMI.

Dunia gerakan telah membawa perubahan yang begitu besar pada diri Muslahuddin Daud. Meningkatnya kapasitas, bertambah nya wawasan dan jaringan benar-benar di rasakan oleh pria yang juga ahli pada bidang resolusi konflik ini. Delapan bulan setelah bergabung dengan Forum LSM Aceh, Muslahuddin bergabung dengan Nonviolent International, sebuah NGO berbasis di Washington untuk program Pendidikan Damai Aceh. Menempati posisi sebagai kurikulum dan training officer, program ini berhasil di laksanakan di 100 Sekolah Menengah Atas di Aceh.

Pada masa perjanjian damai antara RI dan GAM, tepat nya Desember 2002, Muslahuddin bergabung dengan Henry Dunant Centre (HDC). Hanya bekerja selama 5 bulan, Muslahuddin memilih hengkang. Ia memprediksikan bahwa model perjanjian damai yang di jalankan oleh HDC tidaklah tepat, dan tidak menjanjikan kesinambungan.

Analisanya tidak meleset. Hanya berbilang bulan,tepat nya bulan Mei 2003, Pemerintah Indonesia memberlakukan darurat militer. Sehari sebelum penerapannya, Muslahuddin Daud di terima sebagai Konsultan Bank Dunia dan bekerja di 7 wilayah konflik di Indonesia. Menurutnya, kontrak inilah yang membuatnya terhindar dari incaran tangkapan apparat, karena banyak data konflik yang tersimpan di komputernya. Bersama Bank Dunia, Muslahuddin hanya bekerja selama 7 bulan. Hal ini dikarenakan Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia tidak tercapai kesepakatan terhadap proyek yang menggunakan terminologi konflik.

Pasca tsunami, Bank Dunia kembali menghubungi Muslahuddin. Kali ini Bank Dunia meminta kepadanya untuk bekerja pada pemulihan Aceh pasca bencana. Tidak menyianyiakan kesempatan tersebut, lelaki hebat ini bekerja secara maksimal, dan berpartisipasi penuh pada persiapan kehadiran Bank Dunia, hingga di percayakan mengelola dana sekitar 8 trilyun. Dana tersebut di kelola lewat pola Multi Donor Fund yang menggerakkan 15 program besar, seperti infrastruktur, perumahan, kelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi.

Dua tahun sebelum Bank Dunia mengakhiri project nya di Aceh, Muslahuddin di tempatkan di Jakarta dan berkantor di Gedung Bursa Efek Jakarta. Dalam rentang waktu 2011 hingga 2015, Muslahuddin di percayakan untuk mengurusi program PNPM, dan persiapan dalam rancangan dan pelaksanaan UU Desa.
Ketika tahun pertama dana desa sudah di nikmati oleh masyarakat, Muslahuddin memutuskan meninggalkan dunia NGO yang sudah membesarkannya. Ia turun gunung. Ia memilih focus pada dunia yang ia gemari, yakni pertanian. Banyak yang bertanya, “bukankah bekerja dengan pihak asing penghasilannya besar?”

“bertani itu merdeka dalam waktu, makan dan menikmati alam.”jawab Muslahuddin yang saat di hubungi mengaku berada di Bangkok, Thailand.

Kegemaran nya dalam bertani benar benar di tunjukkan lewat dedikasi dan totalitas dalam mendorong meningkatnya kualitas dunia pertanian di Aceh. Melalui totalitas, komitmen dan dedikasi nya dalam dunia pertanian, pada tahun 2017 lalu MNC TV, sebuah televisi swasta di Jakarta menganugerahkan Pahlawan Pertanian Indonesia Tahun 2017 kepada Muslahuddin Daud. Penghargaan tersebut telah menempatkan nama Muslahuddin Daud sebagai tokoh pertanian di level nasional.

Selama menjadi aktifis dan bekerja di beberapa lembaga dunia, pengalaman nya ketika menfasilitasi rakyat miskin, dan kaum marginal lainnya telah memberikan begitu banyak masukan terkait keluh kesah dan problema mereka. Pengalaman empiris ini spirit dan dorongan utama bagi Muslahuddin agar dapat berbuat sesuatu untuk mereka. Atas dasar semangat tersebut, Muslahuddin bertekad untuk memperjuangkan segala keluh kesah yang sudah di dengar sebelumnya dari dalam gedung dewan. Bagi nya, masuk dalam politik merupakan keterpaduan antara kemampuan dan kekuatan, sehingga jika dua prinsip ini di gabungkan, akan melahirkan perubahan nyata di tengah masyarakat. Selamat berjuang Pahlawan Tani Indonesia.

Editor :
Im Dalisah

universitas teuku umar
Komentar Anda