Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Sosok Kita / Jumadil Saputra, Pemuda Lhokseumawe Berjaya di Terengganu

Jumadil Saputra, Pemuda Lhokseumawe Berjaya di Terengganu

Sabtu, 15 Desember 2018 12:25 WIB


DIALEKSIS.COM I Kuala Terengganu - Jangan pernah underestimated kepada anak-anak Pasai. Meskipun tidak banyak referensi anak muda yang berjaya di pendidikan dari Aceh Utara - Lhokseumawe, tapi beberapa di antara mereka cukup brilian dan bisa menjadi contoh untuk menggapai mimpi. Keteguhan dan sifat pantang penyerah membumbui karakter dengan sifat rendah hati untuk terus mau belajar sehingga menjadi jalan menuju kesuksesan.

Hal itu terlihat pada sosok Jumadil Saputra, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh yang sukses menjadi dosen di luar negeri, tepatnya di University Malaysia Terengganu (UMT). Dialeksis.com menemuinya saat terjadi kerjasama antara Universitas Malikussaleh dan Universitas Teuku Umar di Kuala Terengganu, 11-12 Desember 2018. Anak Teumpok Teungoh, Lhokseumawe, ini mengejar mimpinya meraih doktor bidang ekonomi pada umur sangat muda, baru 31 tahun.

Selepas pendidikan di Universitas Malikussaleh, ia melanjutkan pendidikan Pascasarjana di Universitas Syiah Kuala. Sebelum itu ia juga sempat bekerja di sebuah perusahaan asuransi untuk menopang ekonomi keluarga. Ia menyelesaikan pendidikan dalam waktu relatif cepat, dua tahun. Proses pendidikannya yang relatif cepat terbantu oleh kesigapannya berkomunikasi dengan pembimbing tesis dan juga membangun hubungan personal dengan para senior. 

Selesai pendidikan S-2, Putra, panggilannya tidak berhenti bermimpi. Ia kemudian mencari peluang untuk melanjutkan pendidikan doktoral, meskipun sang ibunda mengatakan lebih bagus ia mencari kerja saja yang lebih mapan. Namun karena keteguhannya dalam pendidikan, Putra tetap mencari peluang untuk meng-apply untuk doktoral sambil juga mencari kerja. Ia sempat mengajar paruh waktu di beberapa universitas di Banda Aceh seperti Universitas Jabal Ghafur, Universitas Serambi Mekkah, dan Universitas Syiah Kuala. Ia sempat melamar untuk menjadi dosen di almamaternya, Unimal, tapi ditolak. Ia tidak lulus saat tes dosen.

Namun, kegagalan itu tidak merusak mentalnya. Ia mencari jalan lain. proses itu terbuka ketika ia mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan doktoral ke Jerman, Universität Bonn. Namun, sang bunda menganggap negeri itu terlalu jauh, sehingga ia mengambil pilihan lain, yaitu di UM, sebuah kampus baru yang cukup modern, berfokus pada bidang kemaritiman, oseanografi, dan pariwisata di negara bagian di sisi Laut Cina Selatan. Ia berangkat ke sana dengan meninggalkan pekerjaannya di asuransi.

Pengembaraannya di negeri orang ternyata berbuah manis. Keberadaannya di sebuah kampus yang relatif baru, tapi terus melesat itu menjadi titik sampai (the point of arrival) dalam karirnya. Sebelum selesai pendidikan doktoral, ia telah ditawarkan oleh pihak kampus untuk menjadi dosen terutama untuk ekonometri dan statistik. Ia menyambut tawaran penuh cinta itu. Gajinya di UMT? Jangan disamakan di dalam negeri. Ia mendapatkan reward cukup wah: delapan-sembilan kali lipat gaji pokok dosen senior di dalam negeri!

Benar kata-kata bijak yang disampaikan oleh mantan panglima tentara Amerika Serikat, Collin Powel. Kesuksesan adalah hasil kesempurnaan proses, kerja keras, belajar dari kegagalan, kesetiaan, dan keuletan.

Reporter :
TKF
Editor :
Indri

universitas teuku umar
Komentar Anda