Beranda / Gaya Hidup / Seni - Budaya / Stupa Budha Berusia 1.200 Tahun, Bukti Masa Lalu Malaysia yang Multikultural

Stupa Budha Berusia 1.200 Tahun, Bukti Masa Lalu Malaysia yang Multikultural

Selasa, 12 Maret 2024 22:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Nasha Rodziadi Khaw memimpin tim ilmuwan yang menggali stupa Bukit Choras [Foto: Kit Yeng Chan/Al Jazeera]


DIALEKSIS.COM | Malaysia - Hingga enam bulan yang lalu, tidak ada satu pun penduduk Desa Bukit Choras, yang terletak di tengah sawah dekat bukit terjal dan subur dengan nama yang sama di barat laut Malaysia, yang menyangka bahwa mereka tinggal di dekat keajaiban arkeologi sepanjang hidup mereka.

Baru setelah tim yang terdiri dari 11 peneliti menebangi semak-semak lebat dan hutan sekunder dari puncak bukit, dan dengan hati-hati mengikis tanah, barulah sepotong sejarah Asia Tenggara yang hilang terungkap.

Stupa Budha berusia 1.200 tahun di Bukit Choras ditemukan Agustus lalu di Lembah Bujang Malaysia, sebuah daerah aliran sungai yang tersebar dengan beberapa kelompok situs protosejarah di negara bagian Kedah, barat laut negara itu.

Stupa ini adalah yang paling terpelihara di negara ini dan para ahli mengatakan stupa ini bisa menjadi kunci sejarah panjang multikulturalisme Malaysia.

“Situs ini adalah sebuah anomali karena berdiri sendiri,” kata Nasha Rodziadi Khaw kepada Al Jazeera. Nasha adalah kepala peneliti tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Global (CGAR) Universitas Sains Malaysia di pulau barat laut Penang, yang mengawasi penggalian antara 28 Agustus dan 12 September tahun lalu.

Bukit Choras terletak di dekat kota kecil Yan di pantai selatan Kedah sekitar 370 km sebelah utara ibu kota, Kuala Lumpur.

Berbeda dengan 184 situs arkeologi yang sebelumnya diidentifikasi di Lembah Bujang, yang terletak di selatan, stupa ini terisolasi di sisi utara Gunung Jerai, yang dulunya merupakan tanjung dan titik navigasi penting bagi para pedagang pelaut yang berkelana ke bagian Lembah Bujang ini. dunia hingga ke semenanjung Arab.

“Kami masih belum yakin dengan fungsi Bukit Choras. Ini mungkin merupakan garnisun militer atau pos perdagangan pesisir, tapi kita perlu melakukan penggalian lebih lanjut [untuk menilainya]. Berdasarkan temuan awal kami, situs ini menunjukkan banyak kesamaan dengan situs lain yang ditemukan di Jawa dan Sumatera, Indonesia,” kata Nasha, yang timnya akan terus mengerjakan situs tersebut sepanjang paruh pertama tahun 2024. [Aljazeera]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI
Komentar Anda