Selasa, 04 Agustus 2026
Beranda / Politik dan Hukum / Demokrat Diminta Kaji Mendalam Figur Sayuti Abubakar agar Tidak Rugi Lima Tahun

Demokrat Diminta Kaji Mendalam Figur Sayuti Abubakar agar Tidak Rugi Lima Tahun

Selasa, 04 Agustus 2026 16:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Ilustrasi bendera Demokrat. Foto: Ist


DIALEKSIS.COM | Aceh - Politik, pada akhirnya, adalah seni tentang pilihan yang membawa konsekuensi panjang. Di ruang-ruang diskusi kader Partai Demokrat hari ini, sebuah pertanyaan sunyi namun tajam sedang berkelebat yakni ke arah mana partai ini melangkah, dan di atas fondasi apa sebuah keputusan besar diletakkan?

Ketika diskursus mengenai figur Sayuti Abubakar mengemuka, ia tidak sekadar hadir sebagai sebuah perbincangan tentang pergantian atau dukungan politik semata. Bagi para kader yang mencintai rumah besar Partai Demokrat dengan ketulusan nurani, dinamika ini memantik permenungan mendalam sebuah titik balik untuk merenungkan kembali esensi pengabdian, loyalitas ideologis, dan masa depan organisasi yang telah dibangun dengan keringat serta air mata bersama.

Peneliti Analisa Demokrasi Indonesia (ADI), Zulfikar Mirza alias Jogal, melihat situasi ini bukan sebagai panggung basa-basi politik, melainkan sebuah alarm moral yang harus disikapi dengan kejernihan akal sehat.

"Ini adalah pertaruhan serius bagi Demokrat ketika sosok Sayuti dipilih, dengan segala konsekuensinya," ujar Zulfikar, mengingatkan bahwa sebuah keputusan politik tidak boleh diambil hanya karena silau oleh riuhnya gelombang sesaat.

Zulfikar menegaskan, jika orientasi yang merasuki keputusan tersebut terjebak pada pragmatisme dan oportunisme, maka risikonya terlalu mahal untuk dibayar. Sosok tersebut harus ditimbang secara sangat serius bukan untuk serta-merta dirangkul, melainkan dikaji secara komprehensif.

"Artinya, Demokrat harus kaji secara komprehensif. Jangan nanti rugi lima tahun dan berdampak ke partai," ucapnya dengan nada pengingat yang sarat makna bagi para pemegang kebijakan di internal partai.

Pesan ini menyentuh sisi paling jujur dari nurani untuk para kader Demokrat, bahwa sebuah kekeliruan kalkulasi politik hari ini bukanlah kesalahan kecil yang lekas berlalu, melainkan beban sejarah yang harus dipikul oleh seluruh struktur partai selama lima tahun ke depan.

Dari sudut pandang akademis, pengamat politik dan kebijakan publik dari Universitas 17 Agustus 1945 (UTA 45) Jakarta, Dr. Firman Lukman, mengajak para kader untuk menyeimbangkan kepekaan perasaan dengan ketajaman nalar logika politik modern.

“Dalam politik modern, partai politik dituntut tidak hanya mencari figur yang populis, tetapi benar-benar memiliki kapasitas manajerial dan integritas yang teruji. Kesalahan kalkulasi dalam mengusung atau memilih figur kepemimpinan transformatif berisiko menciptakan disonansi antara visi partai dan ekspektasi konstituen di akar rumput," ungkap Dr. Firman Lukman.

Dr. Firman menambahkan, ukuran sejati dari sebuah kepemimpinan transformatif yang kerap dilekatkan pada narasi Man of Ideas, Man of Integrity, Man of Commitment, dan Man of Action tidak terletak pada seberapa memikat gagasan itu di atas kertas, melainkan pada rekam jejak konsistensi ketika diuji oleh realitas kekuasaan.

Menemukan Jalan Tengah: Merawat Marwah dengan Kaderisasi Otentik

Lantas, di tengah persimpangan jalan ini, di mana letak jalan keluarnya? Apakah Demokrat harus terjebak antara mengambil risiko besar atau kehilangan momentum?

Jawabannya sesungguhnya ada pada rahim kaderisasi partai itu sendiri. Jalan tengah yang paling bijak dan bermartabat adalah menghidupkan kembali kaderisasi otentik yang berbasis meritokrasi dan rekam jejak pengabdian nyata di dalam partai. Demokrat tidak pernah kekurangan kader-kader ideologis yang telah berkeringat membesarkan panji partai dari bawah mereka yang memahami denyut nadi rakyat, yang integritasnya teruji bukan karena musim pemilihan, tetapi karena konsistensi bertahun-tahun di medan juang.

Alternatif paling rasional bagi Demokrat bukanlah bersandar pada figur instan yang membawa risiko ketidakpastian, melainkan kembali kepada kekuatan internal: mengusung atau melahirkan figur kader mandiri yang lahir dari rahim perjuangan partai sendiri. Dengan cara ini, partai tidak sedang berjudi dengan nasib lima tahun ke depan, melainkan sedang menanam investasi moral yang kokoh untuk kepercayaan jangka panjang rakyat.

Bagi setiap kader Demokrat yang membaca uraian ini, mari sejenak menarik napas dalam-dalam. Letakkan tangan di dada, tanyakan pada nurani yang paling jujur: apakah kita akan membiarkan partai ini terombang-ambing oleh arus pragmatisme sesaat, ataukah kita memilih untuk berdiri tegak menjaga marwah, berpikir jernih dengan logika akal sehat, demi masa depan partai yang kita cintai bersama?

Waktu terus berjalan, dan sejarah sedang mencatat pilihan apa yang akan diambil hari ini.[]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI