Selasa, 04 Agustus 2026
Beranda / Data / Statistik Kesehatan Aceh 2025: Angka Kesakitan Menurun, Rokok dan Imunisasi Jadi PR Besar

Statistik Kesehatan Aceh 2025: Angka Kesakitan Menurun, Rokok dan Imunisasi Jadi PR Besar

Selasa, 04 Agustus 2026 17:00 WIB

Font: Ukuran: - +


Pusat Onkologi Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Foto : for Dialeksis 


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kondisi kesehatan masyarakat Aceh menunjukkan tren yang semakin baik sepanjang 2025. Meski demikian, sejumlah tantangan masih perlu mendapat perhatian serius, mulai dari tingginya angka perokok, rendahnya cakupan imunisasi bayi, hingga masih tingginya kasus penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes.

Berdasarkan Statistik Kesehatan Provinsi Aceh 2025 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, persentase penduduk yang mengalami keluhan kesehatan menurun dari 25,58 persen pada 2024 menjadi 24,60 persen pada 2025. Penurunan ini menunjukkan adanya perbaikan kondisi kesehatan masyarakat.

Sementara itu, angka kesakitan (morbidity rate) penduduk Aceh pada 2025 tercatat 13,33 persen. Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, perempuan memiliki tingkat kesakitan lebih tinggi dibandingkan laki-laki, yakni 14,56 persen berbanding 12,08 persen.

Perbedaan tersebut diduga dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi biologis, hormonal, hingga faktor sosial yang membuat perempuan lebih rentan mengalami gangguan kesehatan.

Penyakit yang Masih Banyak Diderita Warga Aceh

Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya hidup sehat, sejumlah penyakit masih menjadi penyebab utama kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan.


Berdasarkan data BPS Aceh, penyakit yang paling banyak diderita masyarakat meliputi : Common Cold (batuk dan pilek), Dispepsia (gangguan lambung), Asma, Hipertensi, Diare, Diabetes melitus, Gastritis (maag), Dermatitis (radang kulit), Hipotensi, Cephalgia (sakit kepala).


Hipertensi dan diabetes menjadi perhatian khusus karena termasuk penyakit tidak menular yang terus meningkat dan berkaitan erat dengan pola hidup masyarakat.


Puskesmas Masih Jadi Andalan


Laporan BPS juga mencatat sebagian besar masyarakat Aceh telah memanfaatkan fasilitas kesehatan formal ketika mengalami gangguan kesehatan.


Sebanyak 44,76 persen penduduk memilih puskesmas, pustu, maupun puskesmas keliling sebagai tempat berobat. Sementara masyarakat yang masih menggunakan pengobatan tradisional atau alternatif hanya sekitar 6,93 persen.


Tingginya pemanfaatan fasilitas kesehatan dinilai mencerminkan semakin baiknya akses pelayanan kesehatan, efektivitas program jaminan kesehatan, serta meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan medis.


Kesadaran Melahirkan di Fasilitas Kesehatan Meningkat


Indikator kesehatan ibu dan anak di Aceh juga menunjukkan perkembangan positif.


Sebanyak 99,68 persen proses persalinan terakhir ditolong tenaga kesehatan. Dari jumlah tersebut, 53,15 persen ditangani bidan, sedangkan 44,82 persen ditangani dokter spesialis kandungan.


Data ini menunjukkan semakin tingginya kesadaran masyarakat untuk menjalani persalinan secara aman di bawah pengawasan tenaga medis.


Imunisasi Bayi Masih Rendah


Di balik berbagai capaian tersebut, cakupan imunisasi dasar bayi masih menjadi pekerjaan rumah.


BPS mencatat cakupan imunisasi Hepatitis B baru mencapai 52,66 persen, sedangkan BCG sebesar 44,48 persen. Angka tersebut masih berada di bawah target ideal, padahal kedua vaksin tersebut seharusnya diberikan segera setelah bayi lahir.


Rendahnya cakupan imunisasi berpotensi meningkatkan risiko munculnya penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi.


Hampir Tiga dari Sepuluh Warga Aceh Masih Merokok


Tantangan lain yang masih dihadapi Aceh adalah tingginya perilaku merokok.


Persentase penduduk yang merokok mencapai 29,30 persen, atau hampir tiga dari sepuluh penduduk. Angka tersebut menjadi perhatian karena merokok merupakan salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung, stroke, kanker paru, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).


Gaya Hidup Sehat Jadi Kunci


BPS menilai kondisi kesehatan masyarakat Aceh terus membaik, namun berbagai tantangan masih memerlukan perhatian bersama.


Penerapan pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, menghindari rokok, membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi langkah penting untuk mencegah meningkatnya penyakit tidak menular.


Selain itu, peningkatan cakupan imunisasi dan penguatan layanan kesehatan dasar juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Aceh.


_Data diolah dari Statistik Kesehatan Provinsi Aceh 2025 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh._

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI