DIALEKSIS.COM | Jakarta - Badan nasional yang menangani bencana mempercepat pembangunan 2.418 unit hunian sementara (huntara) dari total kebutuhan 4.189 unit bagi keluarga korban banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Pengerjaan dipacu lewat kerja sama intensif antara pemerintah pusat dan organisasi kemanusiaan.
Pembangunan huntara digenjot bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, serta mitra-mitra kemanusiaan meliputi Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, MER-C, Relief Box, Dedikasi Foundation, dan Global Peace Chain Indonesia semua bergerak serentak demi mempercepat proses serah terima hunian.
“Pembangunan huntara saat ini telah memasuki tahap penyelesaian akhir dan diproyeksikan rampung sepenuhnya pada pekan kedua Maret 2026,” ujar Abdul Muhari dalam keterangan pers, dikutip Antara. Antara melaporkan pernyataan itu pada Senin, 9 Maret 2026.
Dengan laju percepatan sekarang, pihak penanganan bencana optimistis seluruh penyintas bisa menempati hunian sementara yang lebih layak menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah/2026 Masehi. Selain fokus pada fisik bangunan, perhatian juga diberikan pada pemenuhan kebutuhan dasar warga selama masa transisi.
Secara paralel, personel TNI mulai melakukan pembongkaran tenda-tenda darurat yang sebelumnya dipakai sebagai lokasi pengungsian, menandai perpindahan warga ke huntara. Aktivitas pembongkaran berlangsung sejak Minggu, 8 Maret 2026, di sejumlah titik termasuk di sekitar Kantor DPRK Aceh Tamiang, Kampung Karang Bundar, Desa Durian, dan Desa Benua.
Di Kecamatan Karang Baru, dari 142 unit huntara yang telah selesai dibangun, sebanyak 129 unit sudah mulai dihuni warga, menandakan proses pemulihan mulai berjalan di lapangan. Kecamatan Karang Baru menjadi salah satu contoh perpindahan terorganisir yang diharapkan dapat direplikasi di titik lain.
Setiap unit huntara dilengkapi kebutuhan dasar: kasur, kompor beserta tabung gas, peralatan tidur, hingga kipas angin. Pemerintah juga menyalurkan paket sembako yang mencukupi kebutuhan sekitar 24 hari ke depan, sebagai jaring pengaman pangan selama masa pemulihan dan menyambut Lebaran.
Penutupan babak darurat ini sekaligus memulai fase penataan kembali wilayah pengungsian langkah penting agar ruang publik dan fasilitas umum bisa kembali difungsikan normal setelah warga menempati hunian sementara yang lebih layak.