Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Pemerintahan / Sekolah Rusak Akibat Banjir, Plt Kadisdik Aceh Minta Aktivitas Belajar Tidak Terhenti

Sekolah Rusak Akibat Banjir, Plt Kadisdik Aceh Minta Aktivitas Belajar Tidak Terhenti

Minggu, 28 Desember 2025 21:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin. [Foto: net]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, mengatakan bahwa proses pendidikan tidak boleh terhenti meskipun berada dalam kondisi darurat bencana.

Menurutnya, sekolah justru memiliki peran penting dalam memulihkan kondisi psikologis anak-anak yang terdampak musibah.

Hak ini disampaikan Murthalamuddin saat meninjau langsung lokasi banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Minggu (28/12/2025) yang bisa dilihat dari video berdurasi 1 menit lebih milik Dinas Pendidikan Aceh yang dilansir media dialeksis.com.

Ia bersama rombongan melihat secara dekat sejumlah sekolah yang mengalami kerusakan berat akibat terjangan banjir yang melanda wilayah tersebut sebulan yang lalu.

Ia menyampaikan imbauan sekaligus perintah agar satuan pendidikan yang memungkinkan tetap melaksanakan pembelajaran mulai 5 Januari mendatang, meskipun dengan keterbatasan sarana dan prasarana.

“kita mengimbau, menganjurkan, dan memerintahkan bagi sekolah yang terdampak berat, sepanjang masih memungkinkan melakukan pembelajaran pada 5 Januari nanti, maka kami minta agar bagaimanapun pembelajaran itu harus terjadi,” tegasnya.

Ia menekankan, kehadiran anak-anak di sekolah dan di ruang kelas jauh lebih penting daripada kelengkapan fasilitas belajar.

Menurutnya, meskipun bangku, kursi, atau buku pelajaran belum tersedia akibat rusak atau hanyut terbawa banjir, proses pembelajaran tetap dapat dilakukan dalam bentuk yang sederhana namun bermakna.

“Kalau peralatan belajar sudah tidak ada, bangku kursi tidak ada, buku tidak tersedia, intinya anak-anak berkumpul di ruang kelas bersama guru. Mereka bisa berdiskusi, berbagi pengalaman, saling bercerita, atau kegiatan apa pun yang pertama-tama berfungsi sebagai trauma healing,” ujarnya.

Murthalamuddin menjelaskan, aktivitas tersebut penting agar anak-anak dapat perlahan melupakan trauma dan kepanikan yang mereka alami saat bencana terjadi.

Selain itu, interaksi dengan teman sebaya di sekolah dinilai mampu mengembalikan rasa aman dan kebersamaan yang sempat hilang.

Lebih lanjut, ia menekankan peran guru sebagai fasilitator yang mendampingi anak-anak korban bencana. Guru diharapkan mampu menciptakan suasana sekolah yang aman, nyaman, dan penuh kesabaran, mengingat kondisi emosional peserta didik yang belum stabil.

“Tugas guru hanya memfasilitasi supaya anak-anak tidak melakukan tindakan-tindakan negatif di sekolah. Tapi para guru harus tahu bahwa sebagai bagian dari anak-anak korban bencana, emosional mereka memang tidak stabil. Oleh karena itu, dibutuhkan kesabaran para guru untuk menjaga anak-anak,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar anak-anak tidak dibiarkan berkeliaran tanpa aktivitas yang jelas. Sekolah, kata dia, harus tetap menjadi ruang kegiatan positif bagi mereka, meskipun pembelajaran dilakukan tanpa buku dan alat tulis yang memadai.

“Jangan dibiarkan anak-anak berkeliaran dan tidak mendapat proses pembelajaran. Silakan mereka berdiskusi, berhitung walaupun tidak punya buku. Artinya, yang penting mereka punya kegiatan positif di ruang kelas dan di sekolah,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Murtalamuddin juga memastikan Dinas Pendidikan Aceh akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait untuk mempercepat pemulihan fasilitas pendidikan yang rusak.

Ia berharap, dengan semangat gotong royong dan kepedulian semua pihak, dunia pendidikan di daerah terdampak bencana dapat segera bangkit dan kembali berjalan normal.

“Pendidikan adalah hak anak-anak kita. Dalam kondisi apa pun, termasuk bencana, hak itu tidak boleh hilang,” pungkasnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI