Selasa, 22 September 2026
Beranda / Pemerintahan / Peran Dishub Aceh di Balik Layanan Bandara SIM

Peran Dishub Aceh di Balik Layanan Bandara SIM

Selasa, 22 September 2026 08:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ratnalia

Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, S.T., M.T. Foto: doc humas Dishub Aceh/Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kelancaran perjalanan melalui Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Aceh Besar, memerlukan keterpaduan layanan penerbangan, fasilitas penumpang, dan transportasi penghubung. Dalam pelayanan tersebut, Dinas Perhubungan Aceh memiliki peran melalui koordinasi antarlembaga serta dukungan terhadap konektivitas wilayah.

Penelusuran redaksi Dialeksis terhadap tugas kelembagaan Dishub Aceh menunjukkan bahwa dukungan terhadap Bandara SIM mencakup koordinasi kegiatan fasilitasi bandara, fasilitas pendukung, pengelolaan data angkutan udara, serta kerja sama dengan para pemangku kepentingan penerbangan.

Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, S.T., M.T., sebelumnya menekankan pentingnya keberlanjutan akses penerbangan yang memudahkan masyarakat. Hal itu disampaikannya dalam konteks penerbangan umrah langsung dari Banda Aceh melalui Bandara SIM.

“Pemerintah Aceh terus berupaya agar penerbangan umrah langsung dari Banda Aceh selalu ada sehingga memudahkan masyarakat,” kata Faisal saat menghadiri pelepasan penerbangan umrah di Bandara SIM pada 29 Juni 2026, sebagaimana tercatat dalam keterangan resmi Dishub Aceh.

Dalam keterangan yang sama, Faisal mengaitkan keberlanjutan penerbangan tersebut dengan program Center of Umroh. Pemerintah Aceh menargetkan Bandara SIM sebagai pusat penerbangan umrah maupun haji dari Indonesia. Pernyataan itu menunjukkan arah pengembangan akses penerbangan yang ingin didorong pemerintah daerah.

Fasilitasi pelayanan penerbangan haji dan umrah memang termasuk lingkup tugas Dishub Aceh. Di bidang penerbangan, dinas tersebut juga menyiapkan rekomendasi rute perintis serta mengumpulkan dan mengolah data angkutan udara sebagai bagian dari pelaksanaan evaluasi.

Adapun pelayanan navigasi dan pemanduan lalu lintas penerbangan diselenggarakan AirNav Indonesia. Lembaga ini memiliki kantor cabang Banda Aceh di kawasan Bandara SIM, dengan layanan yang mencakup pemanduan, informasi penerbangan, dan kesiagaan.

Pembagian tugas tersebut memperlihatkan bahwa dukungan terhadap operasional bandara melibatkan sejumlah lembaga dengan tanggung jawab masing-masing. Koordinasi menjadi penghubung antara pelayanan penerbangan dan kebutuhan transportasi masyarakat di daerah.

Dalam pembacaan redaksi Dialeksis, salah satu kebutuhan yang penting diperhatikan ialah kesinambungan perjalanan penumpang. Kemudahan tiba di bandara perlu terhubung dengan akses menuju Banda Aceh maupun kabupaten/kota tujuan. Begitu pula masyarakat yang berangkat dari daerah membutuhkan pilihan transportasi menuju bandara dengan informasi layanan yang jelas.

Kebutuhan itu berkaitan dengan fungsi pemaduan antarmoda pada Dishub Aceh. Perencanaan hubungan antarmoda dapat menjadi dasar untuk menilai kesesuaian layanan angkutan penghubung dengan kebutuhan perjalanan masyarakat.

Data penerbangan dan penumpang juga penting untuk membaca perkembangan kebutuhan tersebut. Jadwal operasional, realisasi penerbangan, dan pola perjalanan dalam suatu periode dapat menjadi bahan evaluasi fasilitas maupun layanan transportasi penghubung.

Dengan dukungan yang terencana, keberadaan Bandara SIM diharapkan semakin memudahkan mobilitas masyarakat. Peran koordinasi, fasilitas pendukung, dan pemaduan antarmoda menjadi bagian penting agar manfaat akses udara menjangkau masyarakat di berbagai wilayah Aceh. [ ]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI