DIALEKSIS.COM | Aceh - Di balik upaya besar pemulihan pascabanjir bandang di Aceh, terselip kisah-kisah kecil para relawan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bekerja dalam senyap membersihkan sekolah dan fasilitas publik. Tanpa sorotan berlebih, mereka hadir membawa cangkul, sapu, dan tenaga, menyatu dengan lumpur yang menutupi ruang kelas, kantor pelayanan, dan pekarangan umum. Walaupun dalam senyap tertangkap sosial media, terlihat dari Rekaman video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan para Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Aceh terjebak dalam lumpur tebal saat membersihkan sekolah dan fasilitas publik pasca banjir bandang.
Kisah-kisah personal itu menjadi simbol kerja gotong royong yang tak kenal pangkat: ada ASN yang kakinya hampir tenggelam sampai paha saat membersihkan ruang kelas, ada pula yang rela merogoh kantong pribadi demi mempercepat pemulihan layanan publik.
Dalam satu video yang viral, Saifullah Abdulgani disapa akrab SAG salah seorang ASN fungsional di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu terekam sedang berupaya mengeluarkan kakinya akibat masuk kelumpur yang dalam di pekarangan sekolah. “Lumpurnya setinggi paha,” ujar salah satu narasi dalam unggahan itu, menggambarkan betapa tebalnya endapan yang menelan fasilitas pendidikan. Unggahan tersebut telah dibagikan ribuan kali, memancing simpati sekaligus apresiasi warganet.
Kisah lain datang dari Mirza Ferdian, ASN di lingkungan Kesbangpol Aceh. Dalam beberapa unggahan, Mirza tampak berjibaku bersama rekan sejawatnya membersihkan dua lokasi terdampak Bireuen dan Aceh Tamiang dari sisa banjir. “Kami kerja dari pagi sampai malam, angkat lumpur, bersihkan dokumen, tata ulang ruang kelas yang rusak,” ujar salah satu rekaman suara yang menyertai video itu.
Senin (29/12), para relawan juga berkumpul di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang. Foto dan video yang tersebar menunjukkan ruangan kantor dipenuhi lumpur hingga hampir menenggelamkan satu lantai gedung. Tim relawan ASN dari Dinas Kesehatan Provinsi Aceh yang tampak membawa peralatan lengkap tercatat membeli dan mengangkut peralatan pembersih dari Banda Aceh demi mempercepat proses dekontaminasi dan pemulihan layanan kesehatan. Upaya itu diterima hangat oleh pegawai setempat yang sempat lumpuh layanan administrasi akibat banjir.
Aksi ini kerap berujung pada pengorbanan personal. Plt Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, bersama Jubir Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh disebut-sebut menggunakan dana pribadi untuk menyewa alat berat yang diperlukan membersihkan sekolah di Bireuen dan Aceh Tamiang. Langkah itu mengundang pujian di kalangan guru, orang tua murid, dan komunitas setempat: bukan saja karena cepat menanggulangi kerusakan, tetapi juga sebagai tanda kepedulian pribadi pejabat daerah.
Fenomena relawan ASN ini sejatinya bagian dari respons terstruktur pemerintah. Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, Muhammad Nasir, kepada Dialeksis menyatakan Pemerintah Aceh telah menerjunkan ribuan ASN sebagai tenaga relawan. “Penugasan relawan ASN ini merupakan bentuk respons cepat Pemerintah Aceh dalam mempercepat pemulihan pascabencana, khususnya pada sektor pendidikan dan fasilitas publik yang terdampak,” kata Nasir, Sabtu, 3 Januari 2026.
Nasir menjelaskan bahwa pada Tahap II pelaksanaan program, sebanyak 4.265 ASN dikerahkan ke 25 sekolah di Kabupaten Aceh Tamiang pada periode 2 - 4 Januari 2026. Pengiriman ini berdasarkan tindak lanjut Keputusan Gubernur Aceh Nomor 300.2/1469/2025 tentang perpanjangan status keadaan tanggap darurat bencana hidrometeorologi di Aceh. “Pada tahap kedua ini, kami memusatkan seluruh kekuatan relawan ASN di Aceh Tamiang agar penanganan dapat dilakukan lebih maksimal dan terkoordinasi,” ujar Nasir.
Menurut Sekda, ASN yang diturunkan berasal dari berbagai Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) dan biro di lingkungan Setda Aceh. Tugas mereka tidak semata mengangkat lumpur; program juga mencakup pembersihan lingkungan, pemulihan fasilitas pendidikan, penyusunan kembali sarana administrasi, serta kegiatan padat karya yang melibatkan warga terdampak. “ASN tidak hanya berperan sebagai aparatur administrasi, tetapi juga hadir langsung di tengah masyarakat saat dibutuhkan. Ini adalah wujud nyata pengabdian dan solidaritas ASN Pemerintah Aceh,” tegasnya.
Aksi gotong royong itu mendapat sorotan netizen. Banyak yang memuji keberanian dan keikhlasan pegawai negeri sipil yang turun tangan. Namun ada pula kritik soal kesiapan sarana dan logistik penanggulangan bencana: video-video yang menampilkan ASN berlumur lumpur mengingatkan publik bahwa respons darurat kerap bergantung pada inisiatif personal dan solidaritas, bukan semata pada kesiapan anggaran atau peralatan terpusat.
Meski demikian, bagi banyak warga terdampak, kehadiran ASN di lokasi bencana memberi harapan konkret. Dalam puing dan lumpur yang menumpuk, aksi-aksi kecil mengangkat kursi, menyapu aula, menata kembali dokumen sekolah”mewakili upaya pemulihan yang tidak menunggu birokrasi. “Di tengah lumpur itu, terlihat sekali jiwa kerelawanan yang lahir dari lubuk hati. Mereka bukan sekadar pegawai; mereka bagian dari komunitas yang ingin membantu warga bangkit kembali,” kata seorang guru yang menerima bantuan pembersihan.
Gerakan kolektif ribuan ASN ini, menurut Nasir, diharapkan mempercepat proses pemulihan di Aceh Tamiang dan menjadi contoh mobilisasi sumber daya manusia saat bencana. “Kehadiran ASN di tengah masyarakat bukan sekadar menjalankan tugas negara, tetapi juga menghadirkan empati, kepedulian, dan harapan bagi warga yang tengah bangkit dari bencana,” tutup Sekda.