DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat upaya menekan angka kematian akibat kanker melalui pemerataan layanan deteksi dini dan pengobatan hingga ke daerah. Langkah ini dilakukan menyusul tingginya angka kematian yang sebagian besar dipicu keterlambatan diagnosis.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan lebih dari 80 persen pasien kanker di Indonesia baru diketahui mengidap penyakit tersebut saat telah memasuki stadium lanjut, sehingga peluang kesembuhan menjadi lebih kecil.
Berdasarkan data GLOBOCAN, Indonesia mencatat sekitar 408.661 kasus baru kanker dengan 242.988 kematian setiap tahun. Kanker menjadi penyebab kematian tertinggi ketiga di Indonesia.
Untuk mempercepat deteksi dini, Kemenkes melengkapi sekitar 10.000 Puskesmas dengan mesin X-ray digital dan ultrasonografi (USG) berbasis kecerdasan buatan (AI). Selain itu, layanan tes HPV DNA juga disiapkan di fasilitas kesehatan primer guna mendeteksi risiko kanker serviks lebih awal.
Di tingkat rujukan, pemerintah menargetkan seluruh 514 kabupaten/kota memiliki layanan CT scan. Kemenkes juga menyiapkan pengadaan 60 alat PET scan hingga 2028, memperluas layanan kemoterapi di 500 kabupaten/kota, serta membangun fasilitas terapi proton pertama di RS Kanker Dharmais.
Penguatan infrastruktur tersebut turut diimbangi dengan percepatan pemenuhan dokter spesialis onkologi melalui program fellowship dan Advanced Clinical Training agar kebutuhan tenaga medis dapat dipenuhi lebih cepat.
Sebagai strategi jangka panjang, Kemenkes telah menyusun Rencana Aksi Nasional (RAN) Kanker 2024-2034 serta mengembangkan layanan kedokteran genomik (precision medicine) yang memungkinkan deteksi risiko kanker melalui pemeriksaan genetik sejak dini. [red]