DIALEKSIS.COM | Jakarta - Perum Bulog melakukan penyederhanaan kemasan bantuan pangan menyusul terganggunya pasokan bahan baku plastik secara global. Langkah ini dilakukan agar penyaluran bantuan pangan tetap berjalan dan tidak mengalami keterlambatan di tengah tingginya kebutuhan masyarakat.
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil DKI Jakarta dan Banten, Taufan Akib, mengatakan kendala utama terjadi pada ketersediaan kemasan berbahan plastik yang bergantung pada pasokan biji plastik impor. Kondisi geopolitik global disebut ikut memengaruhi distribusi bahan baku tersebut.
“Kemarin kita agak terhambat karena faktor geopolitik, penyediaan kemasan itu kan menggunakan biji plastik. Tapi alhamdulillah sekarang sudah berjalan dan ini bisa kita lakukan percepatan,” ujar Taufan dalam keterangan resmi yang diterima pada Jumat (8/5/2026).
Menurut dia, Bulog langsung mempercepat proses pengemasan ulang begitu stok kemasan tersedia. Langkah itu dilakukan agar distribusi bantuan pangan kepada masyarakat penerima manfaat tidak tertunda lebih lama.
“Begitu kemasan datang, langsung kami repack, langsung kami salurkan sehingga bantuan pangan tidak terhambat,” kata dia.
Taufan menjelaskan, penyederhanaan hanya dilakukan pada tampilan luar kemasan. Desain yang sebelumnya menggunakan beberapa gradasi warna kini diubah menjadi lebih sederhana dengan satu warna dominan untuk menghemat penggunaan bahan dan mempercepat produksi.
“Untuk tampilan yang tadinya degradasi warna ada empat sampai dua warna, sekarang menggunakan satu warna. Tapi dari segi kualitas kemasan itu tetap tidak menurunkan standar kualitasnya,” ucap Taufan.
Sementara itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebelumnya telah memperpanjang batas waktu penyaluran bantuan pangan hingga 31 Mei 2026. Dalam kebijakan tersebut, Bulog diperbolehkan menggunakan kemasan alternatif yang tersedia dengan tetap mencantumkan identitas program bantuan pangan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kemasan. [in]